Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan ekonomi dan keuangan syariah memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
Sebagai bentuk dukungan nyata dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo dalam seminar “The 1st International Conference on Islamic Economics, Business and Finance” di Jakarta pada Selasa, mengatakan BI telah mengembangkan cetak biru strategi yang dirumuskan dalam tiga pilar utama.
Ketiga pilar tersebut antara lain pemberdayaan dan penguatan ekonomi syariah melalui pengembangan rantai nilai halal, pendalaman pasar keuangan syariah untuk mendukung pembiayaan syariah, serta memperkuat penelitian, penilaian dan pendidikan ekonomi dan keuangan syariah untuk meningkatkan literasi publik mengenai ekonomi dan keuangan syariah.
Penguatan rantai nilai halal, menurut Dody, dilakukan dengan mengembangkan ekosistem dari berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan dalam rantai hubungan bisnis untuk memperkuat struktur ekonomi yang inklusif.
“Program ini dilaksanakan di empat sektor utama, yaitu industri makanan halal, sektor pariwisata halal, sektor pertanian, dan sektor energi terbarukan,” jelas Dody.
Bank Indonesia, ujar Dody, mendukung distribusi pembiayaan syariah untuk pengembangan rantai nilai halal melalui pendalaman pasar keuangan syariah untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan syariah.
Berdasarkan Laporan Islamic Financial Services Board (IFSB), aset perbankan syariah Indonesia berada di peringkat sembilan terbesar secara global dengan jumlah mencapai USD28,08 miliar.
Sementara berdasarkan Global Islamic Finance Report 2017, menurut Dody, aset keuangan syariah Indonesia menempati peringkat 10 dunia dengan jumlah mencapai USD66 miliar.
“Islamic Finance Country Index kita meningkat ke posisi 6 pada 2018, dari sebelumnya peringkat 7 pada 2017,” ujar Dody.
Pada Juni 2018, Dody mengatakan pangsa perbankan syariah Indonesia dalam hal aset mencapai sekitar 6 persen dari seluruh aset perbankan di Indonesia. Sedangkan total pangsa aset dalam industri keuangan syariah adalah sekitar 8,5 persen dari seluruh aset industri keuangan di Indonesia.
Dody mengatakan gejolak ekonomi dan keuangan global menjadi salah satu tantangan dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta ketidakseimbangan global yang semakin melebar.
Kesenjangan dalam hal penguasaan faktor produksi, pendidikan, dan pendapatan lanjut Dody, dapat menghambat terwujudnya perekonomian yang tumbuh merata, adil, proporsional dan berkelanjutan.
“Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi salah satu upaya dalam memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan global saat ini dan mendatang,” lanjut dia.
Untuk meningkatkan peran dan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah secara global dan nasional, Dody menjelaskan perlunya peran aktif semua pihak, baik pembuat kebijakan, pelaku ekonomi maupun dunia pendidikan.
“Bank Indonesia senantiasa mendorong koordinasi langkah-langkah untuk mensinergikan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” tegas Dody.
news_share_descriptionsubscription_contact

