Chandni
30 Januari 2018•Update: 30 Januari 2018
Rafiu Ajakaye
LAGOS, Nigeria
Setidaknya 168 tewas dalam bentrokan antara gembala ternak dan petani di Nigeria di sepanjang bulan Januari. Sementara itu, masalah yang sama juga menewaskan 549 orang pada 2017, menurut Amnesty International pada Selasa.
Organisasi HAM itu mengatakan pemerintah kurang tanggap merespon kejadian itu dan keputusan mereka mengirimkan pasukan ke daerah pedesaan membuat situasi makin buruk karena prajurit menggunakan "kekerasan berlebih".
"Respon pemerintah Nigeria terhadap kekerasan komunal kurang memadai, terlalu lambat dan tidak efektif," kata Osai Ojigho, direktur Nigeria Amnesty International, dalam pernyataannya.
"Bentrokan antara gembala ternak dan petani di Adamawa, Benue, Taraba, Ondo dan Kaduna menewaskan 168 orang pada bulan Januari saja," lanjutnya. "Ratusan orang tewas tahun lalu dan pemerintah masih kurang tegas menyikapi kekerasan brutal ini. Parahnya lagi, para pembunuh bebas begitu saja."
Ojigho mengimbau pihak berwenang menyelidiki serangan-serangan tersebut dan mengadili mereka yang bertanggung jawab.
Pekan lalu, juru bicara kepresidenan Garba Shehu mengatakan pemerintah berkomitmen mengakhiri krisis itu dengan sejumlah pendekatan: dialog, meningkatkan pengamanan, dan rencana jangka panjang.
Dia juga mengatakan kantor presiden akan mengadakan konferensi dengan semua pihak yang bersangkutan guna mencari solusi jangka pendek dan panjang untuk mengakhiri konflik serta perkembangan agrikultur di Nigeria.
"Konferensi akan mengumpulkan pengalaman dan ide terbaik untuk merencanakan perkembangan 20 hingga 30 tahun ke depan berdasarkan perhitungan populasi dan dampak lingkungan," jelas Shehu.
Kekerasan antara gembala ternak dan petani menjadi masalah besar di Nigeria, khususnya di kawasan Middle Belt.
Pengamat mengatakan konflik itu disebabkan perebutan lahan yang makin sengit karena berkurangnya sumber daya alam dan menipisnya kekayaan Danau Chad.