Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 September 2018•Update: 13 September 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
Seorang wanita Muslim telah menghadapi diskriminasi agama dan pelecehan oleh pihak berwenang di penjara yang dikelola swasta di Kansas, sebuah lembaga hak-hak sipil mengatakan Rabu.
Advokat Muslim yang berbasis di Washington DC itu mengatakan Valeriece Ealom mengeluh bahwa penjaga penjara di Pusat Penahanan Leavenworth telah berulang kali mengkritiknya karena mengenakan jilbab dan mengatakan kepadanya beberapa kali untuk melepas "kain" itu dari kepalanya sebelum dia meninggalkan selnya. Mereka juga mengancam akan mendisiplinkan dia jika tidak melepaskannya.
Kelompok itu mengatakan mereka menangani kasus ini karena menyoroti masalah yang umum terjadi di penjara di mana wanita Muslim didiskriminasikan karena mengenakan jilbab.
"Advokat Muslim percaya bahwa melindungi hak-hak perempuan Muslim untuk mempraktikkan iman mereka sesuai dengan keyakinan mereka saat dipenjara adalah sesuatu yang sangat penting," kata Scott Simpson, direktur advokasi publik lembaga itu, kepada Anadolu Agency.
Ealom, yang dihukum karena tuduhan narkoba, telah ditahan di penjara yang dioperasikan oleh CoreCivic yang berbasis di Tennessee sejak November, setelah pembebasan bersyaratnya dicabut. Tidak jelas kapan dia dijadwalkan untuk bebas..
CoreCivic diberikan kendali atas fasilitas pemasyarakatan melalui kontrak dengan Dinas Marsekal AS.
Lembaga itu mengirim surat kepada CoreCivic, Marsekal AS Ronald Miller dan Inspektur Departemen Kehakiman Jenderal Michael Horowitz pada Rabu, merinci bagaimana Ealom diperlakukan.
Dinas Marsekal AS "harus memastikan bahwa personel di semua fasilitas CoreCivic dilatih dan dididik secara tepat berkaitan dengan penutup kepala, akomodasi keagamaan, dan prosedur pengaduan fasilitas", kata Advokat Muslim dalam surat tersebut.
Setelah dia menyampaikan keluhan kepada manajemen, penjaga penjara membalas dengan beberapa cara, termasuk menyita jilbabnya dan menolak memberinya obat, menurut Muslim Advokat.
Ealom tidak bisa menutupi rambutnya selama empat minggu, sesuatu yang selaras dengan keyakinan dan kewajiban agamanya.
Dengan mengirimkan surat itu, dia ingin penjara memahami fungsi jilbab dan memastikan bahwa narapidana wanita Muslim lainnya tidak menerima perlakuan semacam ini juga, menurut Muslim Advokat.
"Tujuan Ealom adalah agar selalu dapat mengenakan jilbabnya tanpa dilecehkan atau diganggu oleh petugas penjara. Seperti yang dikatakan oleh Advokat Muslim dalam surat itu, dia ingin staf penjara dididik tentang jilbab untuk memastikan bahwa baik dia maupun wanita Muslim lainnya yang ditahan di fasilitas CoreCivic tidak mengalami diskriminasi semacam ini lagi,” tambah Simpson.
CoreCivic telah mendapat sorotan dalam beberapa tahun terakhir atas sejumlah masalah besar yang dihadapinya, termasuk kekurangan karyawan dan keamanan.
Departemen Kehakiman melakukan audit terhadap Pusat Penahanan Leavenworth pada April dan menemukan bahwa penjara swasta itu telah gagal untuk menangani masalah kepegawaian ini yang menyebabkan beberapa celah keamanan di dalam penjara.
Advokat Muslim saat ini tidak memiliki rencana untuk mengajukan gugatan dan berharap masalah ini dapat diselesaikan tanpa litigasi.