Rhany Chairunissa Rufinaldo
31 Agustus 2018•Update: 01 September 2018
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Aliansi antara Turki dan AS tidak boleh menjadi "hitam dan putih", kata seorang pakar, karena mereka terus mengalami hubungan yang rumit akibat penahanan seorang pendeta Amerika.
Luke Coffey, direktur Pusat Kebijakan Luar Negeri Douglas dan Sarah Allison dari lembaga penelitian Heritage Foundation yang berbasis di Washington DC, menyatakan harapan bahwa Ankara dan Washington dapat mundur sejenak dan melihat pertanyaan geopolitik yang lebih besar dan mencari area di mana mereka dapat membangun hubungan.
Dia berbicara di sebuah panel yang diadakan oleh thinktank Turki, Foundation for Political dan Economic and Social Research (SETA) di Washington yang diikuti oleh Jennifer Miel, direktur eksekutif Dewan Bisnis AS-Turki, dan Kilic Bugra Kanat, direktur penelitian di SETA.
Kedua negara "perlu mengakui bahwa aliansi bukanlah hitam dan putih dan perlu melepaskan harapan sepihak mereka tentang bagaimana pihak lawan harus bertindak," kata Coffey.
Dia mengatakan bahwa sekutu AS lainnya di seluruh dunia menyaksikan bagaimana Washington berhubungan dengan Ankara.
"Ada konsekuensi geopolitik dari bagaimana krisis ini diselesaikan."
Kedua sekutu harus "kembali ke meja dan menemukan cara untuk memperbaiki hubungan mereka, dimulai dengan hal terkecil lalu bergerak maju".
"Pada akhirnya, kemitraan AS-Turki yang kuat akan tetap ada," tambahnya.
Miel mengatakan bahwa ekonomi dapat menjadi ukuran untuk membangun kepercayaan dalam hubungan bilateral seperti saat ini.
Dia mengatakan bahwa ketika perdagangan AS-Turki ingin mencapai rekor tertinggi tahun ini, sekarang malah menghadapi sanksi, tarif dan boikot.
"Membawa ekonomi ke dalam adonan politik, tidak hanya akan melukai atmosfer politik tetapi juga melukai hubungan lain antara AS dan Turki dan komunitas bisnis kedua negara," tambahnya.
Miel mengatakan bahwa minat AS terhadap ekonomi Turki sangat tinggi.
Kanat mengatakan bahwa masyarakat Turki sangat kesal terhadap tindakan AS dan sangat terpengaruh oleh percekcokan yang sedang berlangsung antara kedua negara.
"Dalam setiap krisis, AS mendorong hubungan ke titik puncaknya," katanya.
Dia mengatakan bahwa kedua negara memiliki "harapan yang tidak simetris" atas sejumlah masalah.
"Krisis ini menunjukkan bahwa hubungan yang ada atau sejarah panjang kerja sama tidak menjamin bahwa masalah tidak akan muncul di antara sekutu.
Dia mencatat bahwa, bagaimanapun, langkah kecil bisa membuat perbedaan besar dalam memperbaiki hubungan.
Hubungan antara Turki dan AS memburuk setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada dua menteri Kabinet Turki karena menahan seorang pendeta Amerika yang menghadapi tuduhan terkait terorisme di Turki.
Pada 10 Agustus, Presiden AS Donald Trump meningkatkan serangannya ke Turki dengan menggandakan tarif AS atas impor aluminium dan baja Turki. Sebagai pembalasan, Turki pada 15 Agustus menaikkan tarif pada beberapa produk asal AS, termasuk alkohol, produk tembakau dan mobil.