Alex Jensen
29 Maret 2018•Update: 30 Maret 2018
Alex Jensen
SEOUL
Korea Utara pada Rabu mengumumkan bahwa pemimpinnya, Kim Jong-un, telah melakukan kunjungan tidak resmi ke Tiongkok pada pekan ini, yang menandai kunjungan Kim ke luar negeri untuk pertama kalinya sejak memimpin Korut pada 2011.
Media telah menduga adanya kunjungan tersebut sejak sebuah kereta khusus Korut dengan pengamanan ketat tiba di Tiongkok pada Minggu.
Radio milik negara Korut kemudian mengkonfirmasi bahwa Kim diundang oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping. Kim didampingi oleh istri sekaligus sejumlah pejabat senior.
Kunjungan itu dilakukan beberapa pekan menjelang konferensi dengan Presiden Korea Selatan dan Amerika Serikat. Moon Jae-in dan Donald Trump berniat untuk membahas denuklirisasi Korut.
"Ini merupakan bentuk komitmen kami terhadap denuklirisasi di semenanjung," kata Kim seperti dikutip oleh Kantor Berita Xinhua.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah menyambut baik komitmen Korut untuk denuklirisasi.
"Guterres memandang kunjungan Kim ke Korut sebagai awal yang baik dari proses dialog menuju perdamaian berkelanjutan dan denuklirisasi di Semenanjung Korea," kata juru bicara Guterres, Farhan Haq, dalam sebuah pernyataan.
Kim juga mendesak Korsel dan AS untuk "menanggapi upaya Korut dengan niat baik, menciptakan stabilitas dan suasana damai, sambil mengambil langkah-langkah progresif untuk mewujudkan perdamaian".
Meskipun Trump bersikeras bahwa "sanksi dan tekanan maksimum" harus tetap diberlakukan, namun dia optimistis mengenai pertemuan yang akan datang.
"Selama bertahun-tahun dan melalui banyak administrasi, semua orang meragukan bahwa perdamaian dan denuklirisasi Semenanjung Korea akan terwujud. Namun sekarang ada kemungkinan besar bahwa Kim Jong Un akan melakukan apa yang benar untuk rakyatnya dan untuk umat manusia. Nantikan saja pertemuan kami! " cuit Trump lewat Twitter.
Menurut Kantor Berita Yonhap, kantor kepresidenan Korea Selatan telah diberitahu oleh Tiongkok sebelum Kim bertolak ke Tiongkok. Baik Seoul maupun Washington menanggapi spekulasi media dengan menolak untuk mengkonfirmasinya.
Lewat sebuah pernyataan yang dirilis pada Rabu, Gedung Putih mengungkapkan bahwa Tiongkok juga telah memberi tahu AS mengenai kunjungan Kim, dan menyebut kunjungan tersebut sebagai "bukti bahwa tekanan telah menciptakan suasana yang sesuai untuk berdialog dengan Korea Utara".
Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di hadapan parlemen mengatakan bahwa dia "ingin menerima penjelasan menyeluruh dari Tiongkok mengenai kunjungan Kim".
"Saat ini kita berada dalam situasi di mana Korea Utara sedang dalam proses negosiasi. Yang paling penting adalah Korea Utara menghentikan program nuklir dan rudal sepenuhnya," ujar Abe.
Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga mengatakan, sanksi terhadap Korea Utara harus dilanjutkan sampai ada langkah konkret yang diambil.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan "menyambut" perundingan lewat sebuah pernyataan tertulis: "Pemerintah menyambut baik kunjungan Pemimpin Korut Kim Jong-un ke Tiongkok dan diskusi antara Kim dan pemimpin Tiongkok dari Minggu hingga Rabu."
"Pemerintah berharap bahwa kunjungan tersebut akan berkontribusi untuk denuklirisasi dan membangun perdamaian di Semenanjung Korea," tambah kementerian.