Maria Elisa Hospita
02 Maret 2020•Update: 02 Maret 2020
Servet Gunerigok
WASHINGTON
Ratusan orang dari komunitas Turki-Amerika berkumpul di luar Gedung Putih akhir pekan lalu untuk menyuarakan dukungan mereka atas upaya Turki dalam mengakhiri kekerasan rezim Bashar al-Assad di barat laut Suriah.
Unjuk rasa di Lafayette Square digelar setelah rezim Suriah melancarkan serangan di Provinsi Idlib hingga menewaskan sedikitnya 34 tentara Turki.
Sebagai balasan, Turki meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi di Idlib sejak Minggu.
Gunay Evinch, ketua Komite Pengarah Nasional Amerika Turki (TASC), menyampaikan belasungkawa kepada keluarga tentara yang gugur.
"Bertahun-tahun lamanya dunia menyaksikan kekejaman Assad. Kenyataan bahwa Rusia dan Iran mendukung rezim Assad sangat memalukan dan menyedihkan," ujar dia.
Reli itu juga dihadiri Nihad Awad, direktur eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), Osama Abuirshaid, direktur kebijakan nasional untuk Muslim Amerika untuk Palestina, dan Rahim Shahbazi, wakil presiden Masyarakat Azerbaijan di Amerika Utara.
Dalam pidatonya, Awad mengkritik kebijakan pemerintahan Donald Trump mengenai Suriah.
"Sangat memalukan bahwa pemerintah AS mengirim putra-putri bangsa untuk melindungi ladang minyak, bukan penduduk sipil. Mereka membiarkan orang-orang tak berdosa diserang dan dibunuh oleh rezim Suriah," ujar dia.
Direktur CAIR juga mengapresiasi Turki yang bersedia menampung jutaan warga Suriah.
"Kami berterima kasih kepada orang-orang dan pemerintah Turki. Anda sudah membuka perbatasan dan hati Anda," kata dia lagi.