Maria Elisa Hospita
09 Februari 2018•Update: 10 Februari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Pasukan pro rezim Suriah pada Rabu menyerang kelompok teroris SDF, yang dipimpin PYD/PKK, di timur garis batas zona non-konflik Sungai Eufrat, kata Pentagon, Kamis.
"Pasukan pro rezim Suriah bergerak dalam formasi unit berukuran batalion, dilengkapi dengan artileri, tank, dan roket multi-laras," jelas juru bicara Pentagon Dana White dalam konferensi pers, sekaligus mengklaim bahwa 20 hingga 30 artileri mendarat sekitar 500 meter dari markas SDF (PYD/PKK).
White mengatakan bahwa SDF, yang didukung koalisi Amerika Serikat (AS), merespon serangan tersebut dengan melancarkan serangan udara dan artileri, sebagai bentuk "bela diri".
"Anggota sekaligus kendaraan kelompok pro rezim tidak menjadi sasaran serangan," tambah dia, dengan menekankan bahwa AS tidak ingin berkonflik dengan rezim Bashar al-Assad.
"Semua aksi yang tidak sejalan dengan operasi melawan Daesh adalah gangguan," tandas White.
Media AS melaporkan bahwa lebih dari 100 pasukan pro rezim tewas dalam serangan tersebut. Namun, White tidak memaparkan lebih lanjut perihal korban jiwa.
White menjelaskan bahwa pejabat koalisi telah memperingatkan pejabat Rusia mengenai keberadaan SDF di zona non-konflik.
"Pejabat koalisi menjalin komunikasi dengan pihak Rusia sebelum, saat, dan sesudah serangan. Pejabat Rusia telah meyakinkan pejabat koalisi bahwa mereka tidak akan melibatkan pasukan koalisi," ungkap dia.
Menurut White, selama serangan tersebut, seorang tentara SDF terluka.
Turki sejak lama mengkritik AS yang mempersenjatai SDF, namun AS bersikeras bahwa SDF merupakan sekutu yang andal dalam perjuangan melawan Daesh.
Turki menganggap kelompok tersebut sebagai cabang PYD/PKK di Suriah, yang telah merenggut 40.000 jiwa dalam kampanye bersenjata di Turki selama 30 tahun.