Maria Elisa Hospita
04 Juli 2019•Update: 05 Juli 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Penasihat senior sekaligus menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan langkah-langkah selanjutnya dalam rencana perdamaian Timur Tengah Washington akan dipaparkan pekan depan.
Kushner mengunjungi Bahrain minggu lalu untuk memaparkan rencana perdamaian usulannya, yang dijuluki "Kesepakatan Abad Ini".
Saat itu dia menahan diri untuk tidak mengungkapkan aspek politik yang lebih diantisipasi dari rencana tersebut.
Konferensi Manama dihadiri oleh AS, Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, sementara Palestina bersikeras tidak hadir.
Negosiasi Palestina-Israel pada April 2014 gagal setelah Israel menolak untuk menghentikan aktivitas pembangunan permukiman, menerima solusi dua negara, dan membebaskan tahanan Palestina.
Pemerintahan Trump mulanya mengatakan akan menunggu hingga November untuk mengungkapkan seluruh rencananya, yaitu ketika Israel akan membentuk pemerintahan baru, namun akhirnya berubah pikiran.
Sesuai rencana, Gedung Putih meminta investasi senilai USD50 miliar untuk Palestina dan negara-negara tetangga Arab.
Gedung Putih menyerukan peningkatan proyek infrastruktur di sepanjang Jalur Gaza dan Tepi Barat untuk "memberdayakan" rakyat Palestina.
Meskipun Kushner menyebut Palestina membuat "kesalahan strategis" karena tidak menghadiri konferensi di Bahrain, Trump justru senang dengan keputusan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan ingin terlibat dengannya secara pribadi.
"Pintu selalu terbuka untuk pemimpin Palestina. Kami menghormati Presiden Abbas dan kami yakin dia ingin berdamai. AS ingin memberinya kesempatan untuk mencoba dan melakukannya," ujar Trump seperti dilansir oleh Axios.