Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 November 2018•Update: 22 November 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) pada Rabu menegaskan seruannya untuk semua pihak di Yaman yang dilanda perang untuk segera menghentikan permusuhan dan terlibat dalam pembicaraan langsung untuk mengakhiri konflik.
"Sekaranglah saatnya untuk berbicara langsung dan membangun rasa saling percaya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Heather Nauert dalam sebuah pernyataan.
Pernyataan itu juga meminta semua pihak untuk mendukung Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths.
"Kami menyambut baik pernyataan Utusan Khusus PBB bahwa Houthi dan Pemerintah Republik Yaman berkomitmen untuk menghadiri diskusi di Swedia dan kami menyerukan kepada para pihak terkait untuk menindaklanjuti komitmen itu," kata Nauert.
Dia menegaskan bahwa semua pihak tidak boleh menunda pembicaraan lebih lama lagi, atau bersikeras pada syarat perjalanan atau transportasi yang hanya akan mempertanyakan niat baik untuk mencari solusi dan mencapai konsesi yang diperlukan.
"Kami mendorong semua kombatan untuk mematuhi pernyataan mereka tentang komitmen untuk menghentikan permusuhan dan meminta pihak-pihak tersebut untuk tidak menggunakan periode gencatan senjata untuk memperkuat posisi militer, menanam ranjau, atau meningkatkan konflik dengan cara apa pun," ujarnya.
Pernyataan itu juga menyerukan agar pelabuhan Hudaydah Yaman diserahkan kepada pihak netral untuk mempercepat distribusi bantuan guna mengatasi krisis kemanusiaan akut, serta untuk mencegah pelabuhan digunakan untuk menyelundupkan senjata dan barang ilegal ke dalam negeri atau untuk membiayai milisi Houthi.
Pelabuhan Hudaydah menjadi jalur transportasi bagi sekitar 70 persen dari impor komersial dan bantuan kemanusiaan yang masuk ke negara itu.
"Sudah waktunya untuk mengakhiri konflik ini, ganti konflik dengan kompromi dan biarkan rakyat Yaman pulih melalui perdamaian dan rekonstruksi," tambah pernyataan itu.
Yaman didera kekerasan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik meningkat pada 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arabnya meluncurkan kampanye udara besar-besaran di Yaman untuk menggulingkan kekuasaan Houthi