Maria Elisa Hospita
22 November 2018•Update: 23 November 2018
Umar Farooq
WASHINGTON
Perang di Yaman harus diakhiri dan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) harus bertanggung jawab atas kehancuran yang mereka buat.
Hal itu diserukan oleh Tawakkol Karman, peraih Nobel Perdamaian sekaligus jurnalis Yaman, dalam tulisan opini di Washington Post.
Dia menuliskan bahwa perang itu telah melumpuhkan infrastruktur Yaman dan menyebabkan ribuan orang menderita kemiskinan dan kelaparan.
"Mengapa Saudi dan sekutu-sekutunya tak mengizinkan pemerintah yang sah untuk kembali ke wilayah-wilayah yang dibebaskan? Mengapa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua negara terkaya di dunia, membiarkan krisis kemanusiaan ini berlanjut?" tandas Karman.
Wilayah darat, udara, dan laut Yaman telah diblokade dan ada "pembantaian warga sipil" di pasar, kamp pengungsi, rumah sakit, dan sekolah.
"Solusi untuk mengakhiri perang sudah jelas. Pertama, Amerika Serikat dan negara-negara lain harus menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi dan UEA," kata dia lagi.
Baik Dewan Keamanan PBB maupun para pendukung barat koalisi pimpinan Saudi tak ada yang mempertanyakan logika di balik konflik itu.
Yaman yang miskin telah didera konflik sejak tahun 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik memanas pada 2005, ketika Arab Saudi dan sekutu Arab Sunni-nya melancarkan kampanye udara besar-besaran di Yaman untuk mengalahkan Houthi.
Puluhan ribu orang - termasuk penduduk sipil Yaman - diyakini tewas dalam konflik tersebut, yang juga menghancurkan infrastruktur dasar Yaman.
Saat ini PBB memperkirakan bahwa sekitar 14 juta penduduk Yaman berisiko menderita bencana kelaparan. Bahkan, menurut kelompok HAM Save the Children, sebanyak 85.000 anak usia bawah lima tahun di Yaman meninggal dunia karena kelaparan.
Karman juga menyinggung soal pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, yang dapat membangkitkan "kesadaran global" tentang Arab Saudi dan memusatkan perhatian kembali pada krisis di Yaman.
Khashoggi, seorang kolumnis Washington Post, tewas dibunuh setelah memasuki gedung Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.
Karman juga menekankan bahwa Houthi "harus dipaksa untuk menghentikan aksi destruktif mereka".
"Arab Saudi, UEA, dan Houthi harus diberi tahu dengan satu suara: "Sudah, cukup sudah!" kata peraih Nobel itu.