Rıskı Ramadhan
29 Desember 2017•Update: 29 Desember 2017
Burak Karacaoğlu,Mohamad Misto,Eşref Musa
GHOUTA TIMUR/IDLIB
Kerim, bayi yang kehilangan mata kiri dan ibunya dalam serangan rezim Bashar al-Assad di Ghouta Timur berisiko kehilangan sebelah matanya lagi.
Kepada Anadolu Agency, Ayah Kerim, Abu Muhammed mengatakan, Kerim dapat kehilangan mata kanannya karena luka di kepala dan peradangan di mata kirinya.
“Menurut dokter, jika peradangan yang menumpuk di mata kirinya merambah ke mata kanan. Putra saya juga dapat kehilangan mata kanannya,” ungkap Muhammed.
Muhammed menambahkan, luka di kepala yang dialami Kerim akibat serangan yang sama juga bisa menjadi penyebab bayi itu kehilangan sebelah matanya lagi.
Sang ayah menjelaskan bahwa dia tidak dapat menemukan obat untuk Kerim.
“Saya mau putra saya diobati di luar Ghouta Timur,” kata dia.
Menurut Muhammed, Kerim harus di evakuasi dan diobati di rumah sakit yang lengkap.
Muhammed berterima kasih atas dukungan dunia terhadap Kerim.
“Namun ada ratusan anak seperti Kerim yang harus segera di evakuasi di Ghouta Timur,” tambah dia.
Muhammed menjelaskan, dokter telah memberikan yang terbaik, sejumlah lembaga bantuan juga telah menawarkan bantuan tapi ketiadaan obat tetap menjadi masalah utama.
“Apa yang bisa saya lakukan dengan uang jika persediaan obat tidak ada?” ujar dia
Kerim kehilangan mata kiri dan ibunya dalam sebuah serangan Rezim Assad di Ghouta Timur yang dikendalikan oleh oposisi 1,5 bulan yang lalu.
Akibat serangan tersebut. Kerim juga menderita luka berat di kepala.
Pengguna media sosial dari seluruh dunia telah membagikan lebih dari lima juta pesan solidaritas untuk Kerim setelah Anadolu Agency menyebarkan foto dan kisahnya.
Lima tahun terakhir, 400 ribu warga di timur Ghouta Timur hidup di bawah pengepungan militer.
April lalu, makanan masih bisa dipasok ke Ghouta timur melalui jalan ilegal, terowongan tersembunyi dan oleh pedagang.
Setelah itu, memasok makanan dan obat-obatan ke Ghouta Timur menjadi tidak mungkin setelah rezim dan kelompok teroris asing pendukungnya memperketat blokade.
Keadaan ini semakin mempersulit kehidupan sehari-hari di Ghouta Timur. Ghouta Timur ditetapkan sebagai "zona de-eskalasi" dalam perjanjian Astana.
Rusia sebagai penjamin rezim menyatakan gencatan senjata mulai berlaku pada 22 Juli lalu, namun serangan rezim masih terus berlanjut tanpa henti.