Muhammad Abdullah Azzam
20 Januari 2021•Update: 20 Januari 2021
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
China pada Selasa mengecam pernyataan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menilai armada drone buatan perusahaan China dapat menimbulkan risiko keamanan.
“Kebijakan pertahanan nasional China bersifat defensif, bertujuan untuk menjaga keamanan nasional dan mencegah perang. Itu tidak menargetkan negara mana pun dan tidak dapat disangkal,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying pada konferensi pers di Beijing, seperti dikutip harian China, Global Times.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan badan-badan AS untuk menilai "risiko keamanan apa pun" dari drone buatan China di armada pemerintah AS dan memprioritaskan pemindahannya.
"China dengan tegas menentang generalisasi konsep keamanan nasional oleh AS, serta langkahnya untuk mendiskreditkan dan menekan perusahaan China tertentu," kata Hua, menyebut langkah AS itu sebagai "praktik mempolitisasi sains dan teknologi."
“Langkah itu hanya akan merusak kepentingan, citra dan kredibilitas AS sendiri,” tambah juru bicara itu.
Mengecam Washington atas tindakan "tidak adil dan sepihak", Hua menuturkan dengan menyerang peluncuran rudal China, AS sudah membuat alasan untuk ekspansi militernya sendiri.
"AS adalah satu-satunya kekuatan super yang mengembangkan senjata tanpa hambatan dan merusak perdamaian dan stabilitas global dan regional," tambah dia.
Di bawah Trump, AS menganggap industri pertahanan China sebagai "ancaman keamanan" dan memberikan sanksi dan daftar hitam bagi banyak perusahaan China.
Pada Desember lalu, Departemen Perdagangan AS menambahkan produsen drone terbesar di dunia - SZ DJI Technology Co China - ke daftar hitam ekonomi bersama lusinan perusahaan China lainnya.
Pada Januari 2020, Departemen Dalam Negeri AS juga melepas setidaknya 800 drone buatan China, namun, dan akan mengizinkan penggunaannya untuk situasi darurat.