Maria Elisa Hospita
16 Maret 2021•Update: 16 Maret 2021
Burak Bir, Dilan Pamuk
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan meyakini bahwa membangun kembali perdamaian dan stabilitas di Suriah bergantung pada dukungan Barat ke Ankara.
Dalam kolom berjudul "The West Should Help Turkey End Syria's Civil War" untuk Bloomberg, Erdogan menuliskan bahwa solusi damai dan langgeng hanya akan terjadi jika integritas teritorial dan kesatuan politik Suriah dihormati.
"Pada peringatan 10 tahun perang Suriah, kita harus mengenang ratusan ribu orang yang terbunuh, tersiksa, dan jutaan lainnya yang telantar, karena menuntut demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia," ujar Erdogan.
Presiden menekankan bahwa Turki menolak "rencana apa pun yang tidak memenuhi tuntutan rakyat Suriah karena opsi seperti itu hanya akan memperburuk krisis".
Menurut Erdogan, zona aman di Suriah - yang dibangun Turki dengan rekan lokalnya - adalah bukti komitmen Ankara untuk masa depan Suriah.
"Pemerintahan Joe Biden harus tetap setia pada janji kampanyenya dan bekerja sama dengan kami untuk mengakhiri tragedi di Suriah dan mempertahankan demokrasi," tegas Erdogan, seraya menambahkan bahwa rakyat Turki siap mendukung inisiatif apa pun yang melayani kepentingan Suriah.
Pada Maret 2011, rakyat Suriah bangkit melawan rezim Bashar al-Assad dan menuntut reformasi politik dan kebebasan.
Namun, gerakan prodemokrasi itu berubah menjadi perang saudara setelah rezim Assad menyerang kelompok itu dengan kekerasan.
Sejak 2016, Turki telah meluncurkan tiga operasi antiteror di perbatasannya dengan Suriah, Perisai Eufrat (2016), Ranting Zaitun (2018), dan Mata Air Perdamaian (2019).