Muhammad Abdullah Azzam
10 Desember 2019•Update: 10 Desember 2019
Muhammed Ali Toruntay
ANKARA
Federasi Serikat Pekerja Hak-Is yang di dalamnya terdapat para karyawan Anadolu Agency berkumpul di depan Kedutaan Besar Prancis di Ankara untuk memprotes kekerasan polisi Prancis.
Aksi demonstrasi itu digelar setelah wartawan foto Anadolu Agency terluka saat meliput bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa Prancis di Paris.
Jurnalis foto Anadolu Agency, Mustafa Yalcin, terluka parah di mata kirinya akibat terkena granat plastik yang ditembakkan oleh polisi Prancis pada Kamis kemarin.
Ketua Hak-Is Mahmut Arslan, dalam pernyataannya di depan Kedubes Prancis, mengingatkan bahwa Yalcin mengikuti protes sesuai dengan aturan liputan internasional selama bertugas.
"Rekan kami mengenakan helmnya seperti jurnalis lainnya, berlokasi jauh dari para demonstran. Namun saat dia sedang meliput aksi bersama jurnalis lainnya sebuah bom plastik dilemparkan ke arah dia dan beberapa wartawan,” ujar Arslan.
"Sejumlah jurnalis yang beroposisi juga menjadi sasaran dengan sengaja lemparan bom tersebut. Bom plastik ini menghancurkan helm saudara kita Mustafa Yalcin dan potongan-potongannya mengenai matanya,” tambah dia.
Arslan mengungkapkan serangan yang dilakukan oleh polisi Prancis adalah tindakan kekerasan dan teror terhadap para wartawan secara langsung.
Yalcin terluka saat meliput bentrokan antara polisi Prancis dan demonstran yang menentang rencana kontroversial untuk reformasi pensiun.
Meskipun telah menjalani operasi selama enam jam, Yalcin masih menghadapi risiko kehilangan penglihatan secara permanen.
Pada Jumat Senol Kazanci, ketua dewan dan direktur jenderal Anadolu Agency, meminta pihak berwenang Prancis untuk menyelidiki kasus Yalcin, dan mengatakan bahwa kantor berita akan mengawasi proses tersebut.