Muhammad Abdullah Azzam
23 Maret 2021•Update: 23 Maret 2021
Agnes Szucs
BRUSSELS
Hubungan antara Uni Eropa (UE) dan Turki harus berfokus pada fakta bahwa keamanan Eropa ditentukan oleh situasi di Turki, kata Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto pada Senin.
"Keamanan Eropa sama dengan keamanan Turki," kata Szijjarto kepada wartawan selama jeda dari pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa yang berlangsung di Brussel.
Szijjarto melanjutkan dengan mengatakan bahwa keamanan Eropa akan sangat terancam jika Turki memutuskan untuk membuka perbatasan bagi lebih dari 4 juta pengungsi yang saat ini ditampungnya.
Dia juga mendesak blok itu untuk membayar sisa bantuan bagi pengungsi senilai EUR6 miliar (USD7,2 miliar) yang telah dijanjikan UE berdasarkan perjanjian 2016, yang dimaksudkan untuk menghentikan arus migran gelap dan memperbaiki kondisi pengungsi Suriah di Turki.
Menteri Hongaria itu mengatakan dia mendukung penguatan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Turki, termasuk perluasan serikat pabean.
Menteri luar negeri Uni Eropa sedang mendiskusikan hubungan masa depan blok itu dengan Turki selama pertemuan mereka itu.
Dalam rapat tersebut, para menlu UE menilai laporan yang disusun oleh Borrel dan layanan diplomatik UE tentang hubungan masa depan blok it dengan Turki.
Menurut bocoran, laporan tersebut menyambut baik "langkah positif" Turki dan "sikap yang lebih tenang, lebih konstruktif".
Ini juga menyarankan untuk "memperdalam momentum saat ini dan mendorong hubungan yang lebih erat antara UE-Turki" dengan perluasan serikat pabean.
Laporan tersebut juga merekomendasikan untuk memasukkan Turki lebih jauh dalam penelitian yang didanai Uni Eropa atau program kepemudaan seperti Horizon Europe dan Erasmus +.
Berdasarkan laporan tersebut, para menteri UE juga akan membahas isu migrasi dan pembaruan kesepakatan pengungsi UE-Turki 2016.
Keputusan akhir tentang masa depan hubungan keduanya akan dibuat oleh para pemimpin Uni Eropa yang akan mengadakan KTT virtual pada Kamis dan Jumat.