İqbal Musyaffa
28 September 2018•Update: 28 September 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia pada sesi debat Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ke-73 di General Assembly Hall, New York, Kamis, mengatakan bahwa reformasi PBB tidak dapat dihindari.
“Kalau tidak [melakukan reformasi], PBB akan usang dan tidak mampu menjawab kebutuhan dan tantangan hari ini dan esok,” terang Wakil Presiden Jusuf Kalla.
JK - sapaan Kalla - mengatakan bahwa masyarakat yang damai, adil, dan berkelanjutan, membutuhkan PBB yang lebih responsif, bertanggung jawab, dan kredibel.
“Kita di PBB harus menunjukkan kepemimpinan,” tegas JK.
Lebih lanjut, Wapres Kalla menuturkan bahwa PBB harus diposisikan dengan lebih baik, untuk membantu negara-negara yang menopang perdamaian dan mencapai SDGs.
“Indonesia selalu siap untuk berkontribusi pada tujuan mulia ini demi kemanusiaan,” ujar dia.
JK menjabarkan bahwa dunia terus menghadapi tantangan global yang kompleks. Ketidakstabilan dan konflik masih merajalela dan mewarnai dunia. Kemiskinan dan ketidaksetaraan ekstrem terus berlanjut, bahkan pemikiran zero-sum dan nasionalisme sempit sering berlaku.
“Demokrasi serta pelanggaran hak asasi manusia masih menjadi masalah sehari-hari dalam hidup kita,” ujar JK.
Di saat seperti ini, kata JK, orang sering keliru menilai bahwa kepemimpinan hanya yang memiliki kekuatan besar atau memiliki kekuatan superhero.
“Kita di ruangan ini adalah para pemimpin global, secara kolektif kita memiliki kekuatan superhero,” tegas dia.
Saat ini, menurut dia, yang harus dilakukan adalah memanfaatkan kehendak, keberanian, kekuatan, welas-asih, ego, dan kerendahan hati para pemimpin dunia.
“Ini adalah inti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kita semua percaya pada kekuatan dan kekuasaan mantra dalam Piagam PBB. Kita adalah bangsa Perserikatan Bangsa-Bangsa," seru Wapres Kalla.
JK juga menegaskan bahwa sebagai pemimpin global, muda dan tua, wanita dan pria, harus bekerja bersama untuk saling mendorong dalam mencapai tujuan dan sasaran Perserikatan Bangsa-Bangsa.