Rıskı Ramadhan
02 Maret 2018•Update: 03 Maret 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada Kamis menyatakan bahwa pernyataan Rusia menyerukan gencatan senjata selama lima jam di Ghouta Timur adalah “lelucon”.
"Apa yang seharusnya terjadi adalah gencatan senjata nasional yang telah diputuskan dengan suara bulat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu lalu," kata Heather Nauert kepada wartawan dalam sebuah konferensi pers.
"Lima belas negara mendukungnya, saya ingatkan Anda. begitu pula Rusia," ujar dia.
Nauert mengatakan bahwa resolusi gencatan senjata yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB pada Sabtu "jelas tidak berjalan", lebih dari 100 orang telah terbunuh sejak saat itu.
Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2401 diadopsi dengan suara bulat pada Sabtu. Resolusi tersebut menyerukan gencatan senjata selama 30 hari di Ghouta Timur untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.
Namun, Rusia dan rezim Suriah terus menembaki daerah tersebut.
Menyatakan bahwa Rusia bertanggung jawab atas berlanjutnya pembunuhan warga sipil di Ghouta Timur yang terkepung dan melengkapi militer rezim Suriah, dia mendesak Moskow untuk mematuhi resolusi gencatan senjata kemanusiaan Dewan Keamanan PBB.
Rumah bagi sekitar 400.000 warga sipil, Ghouta Timur telah berada di bawah pengepungan rezim yang telah melumpuhkan kehidupan selama lima tahun terakhir. Pengepungan juga menghambat total akses kemanusiaan ke daerah tersebut.
Dalam delapan bulan terakhir, pasukan rezim telah memperketat pengepungan sehingga pengiriman makanan dan obat-obatan menjadi hampir tidak mungkin dilakukan.
Menurut badan pertahanan sipil White Helmets, serangan rezim telah menewaskan 389 orang di Ghouta Timur dalam enam hari terakhir.
Suriah telah dirundung konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Meskipun pejabat PBB mengatakan ratusan ribu jiwa tewas akibat perang sipil tersebut, pejabat rezim Suriah mengatakan jumlah korban hanya sekitar 10 ribu jiwa.