Jeyhun Aliyev
ANKARA
Anadolu Agency mengumpulkan wartawan internasional untuk pelatihan dan membekali mereka dengan keterampilan untuk menghindari bahaya saat melakukan liputan dalam situasi darurat.
Sekitar 23 wartawan berkumpul di ibu kota Ankara untuk mengikuti kursus jurnalisme perang ke-17.
Di bawah pengawasan Akademi Berita Anadolu Agency dan bekerjasama dengan Akademi Kepolisian Turki, Angkatan Bersenjata Turki, Badan Kerjasama dan Koordinasi Turki (TIKA) dan Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD), para jurnalis dari 15 negara mendapatkan meteri teori dan praktik tentang bagaimana bertahan hidup dalam krisis dan dalam kondisi luar biasa.
Pelatihan selama 12 hari - yang dimulai pada 23 September - memberikan pelatihan kepada wartawan dari Afghanistan, Ethiopia, Georgia, Azerbaijan, Ukraina, Kroasia, Suriah, Kolombia, Myanmar, Nigeria, Aljazair, Palestina, Yordania, Filipina dan Pakistan.
Selama minggu pertama program, para peserta menerima pengetahuan teoritis tentang hukum perang, geopolitik Timur Tengah, kiat bertahan hidup selama serangan kimia dan biologis, kamp pencari suaka dan kamp-kamp pengungsi, keamanan teknologi informasi dan perjuangan Turki melawan Organisasi Teror Fetullah (FETO).
Mereka juga diajari pertolongan pertama, pertahanan jarak dekat, penggunaan masker gas, bertahan hidup di air dan teknik mengemudi tingkat lanjut.
Para peserta pelatihan juga menjalani simulasi liputan demonstrasi dan menghadapi asap granat, gas air mata dan meriam air di Akademi Kepolisian.
Lebih dari dua puluh materi terpisah diajarkan oleh pakar akademisi dan personel keamanan profesional dalam program tersebut.
Mereka yang berhasil menyelesaikan program akan diberikan sertifikat yang diakui secara internasional.
- Tanggapan peserta
Para peserta berkesempatan untuk berbagi kisah hidup mereka dengan Anadolu Agency di sebuah danau di Ankara.
Daniel Salgar, peserta dari Kolombia, mengatakan program ini adalah pengalaman yang sangat menarik baginya.
Silabet Manaye, produser televisi dan radio di Ethiopia, mengatakan bahwa pelatihan itu adalah pengalaman renang pertamanya.
Manaye mengungkapkan bahwa pada awalnya, dia merasa panik di dalam air, tetapi kemudian merasa santai dan mulai bisa berenang.
Jasmina Grbavec, produser berita televisi berusia 26 tahun dari Kroasia, mengatakan bahwa harapannya adalah bisa belajar bagaimana fokus dan tetap tenang sambil menyelamatkan koleganya di lapangan.
"Itu luar biasa dan tidak begitu sulit. Oke, kami basah tapi kami selamat," tambah dia.
Dia juga menekankan pentingnya tetap bersama sebagai satu kelompok saat berada di dalam air agar tetap hangat.
Lilia Alelishvili, 29, yang berasal dari Georgia, mengatakan bahwa dia sangat senang dengan program pelatihan itu.
"Sangat berbahaya bagi saya karena saya tidak bisa berenang, tetapi sangat menarik dan sangat bagus," ujar dia.
Seorang perwira polisi senior yang mengajar para peserta pelatihan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa bertahan hidup di air adalah kerja tim dan bahwa sangat penting untuk tidak panik.
"Ada dua bahaya utama dalam air: hipotermia dan tenggelam," ujar polisi yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Dia mengatakan beberapa peserta pelatihan berenang di perairan terbuka untuk pertama kalinya dan menderita gejala awal hipotermia dan mulai menggigil.
- Teknik berkendara tingkat lanjut
Petugas polisi lalu lintas Turki juga mengajarkan para peserta teknik-teknik mengemudi tingkat lanjut dan keselamatan berkendara.
Timothy Olanrewaju, 51, reporter perang senior dari Nigeria, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa teknik mengemudi sangat berguna saat dia meliput wilayah timur laut negaranya yang sering mengalami serangan Boko Haram.
"Ini adalah pengalaman seumur hidup dan saya akan membaginya dengan kolega saya di tanah air," tutur di.
Zoraiz Bangash, seorang jurnalis dari Pakistan, mengatakan bahwa pelatihan ini memberikan keterampilan langsung dan dia akan kembali ke rumah dengan bekal yang jauh lebih baik.
"Saya sangat senang berada di sini dan belajar banyak dari Turki," ungkap dia.