Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
12 Februari 2020•Update: 13 Februari 2020
Selen Temizer, Adham Kako, Mehmet Burak Karacaoglu, Esref Musa
IDLIB, Suriah
Terlepas dari penunjukan Idlib sebagai zona de-eskalasi pada Mei 2017, pasukan rezim Suriah terus melanjutkan serangan mereka dan mengambil alih daerah lebih lanjut.
Pada 2018, pasukan rezim merebut kendali wilayah Suriah seluas 3.000 kilometer persegi, termasuk bandara militer Abu al-Duhur yang terletak di Idlib.
Upaya rezim meningkatkan jumlah pasukan untuk sepenuhnya mengambil alih Idlib baru terhenti tahun lalu setelah kesepakatan Sochi antara Turki dan Rusia.
Peningkatan serangan rezim memicu gelombang migrasi menuju perbatasan Turki.
Berkat upaya Turki, Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui kesepakatan Sochi pada 18 September 2018, tetapi rezim dan pendukungnya terus melanjutkan serangan.
Lebih dari 1.800 warga sipil tewas sejak perjanjian itu, sementara sejak Januari 2019, jumlah warga Suriah yang dipindahkan dari Idlib dan Aleppo meningkat hingga hampir 1,77 juta.
Krisis kemanusiaan di Suriah menjadi semakin dalam karena kamp-kamp di Idlib penuh sesak akibat kurangnya area serta infrastruktur untuk mendirikan tenda.
Serangan udara berubah menjadi serangan darat
Mengabaikan kesepakatan Sochi, pasukan rezim mulai mempercepat serangan mereka sejak awal Februari.
Rezim telah mengambil alih distrik-distrik besar seperti Kafr Nabudah, Khan Shaykhun, Maarat Al-Numan, Saraqib serta wilayah selatan dan tenggara Idlib, daerah pedesaan Hama dan wilayah pedesaan di selatan dan barat Aleppo.
Dengan kata lain, rezim telah merebut sekitar setengah dari zona de-eskalasi Idlib.
Pos pengamatan tentara Turki dikepung
Sementara Turki berupaya untuk menemukan solusi bagi krisis kemanusiaan dan mencegah gelombang migrasi baru baik melalui perbatasan maupun ke Eropa, pasukan rezim Suriah terus meningkatkan serangannya terhadap pos-pos pengamatan Angkatan Darat Turki.
Akibat serangan di dalam zona de-eskalasi, lima pos pengamatan tentara Turki tetap berada dalam pengepungan.
Tujuh dan lima tentara gugur masing-masing pada 3 Februari dan 10 Februari dalam serangan penembakan rezim.
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Tetapi, rezim dan pasukan Rusia di zona itu terus melanggar gencatan senjata dan menyebabkan lebih dari 1.800 warga sipil tewas.
Turki mengumumkan pada 10 Januari bahwa gencatan senjata baru di Idlib akan dimulai setelah tengah malam pada 12 Januari, tetapi rezim dan kelompok-kelompok teroris yang didukung Iran melanjutkan serangan mereka.
Lebih dari 1,7 juta warga Suriah telah bergerak ke dekat perbatasan Turki untuk menghindari serangan hebat selama setahun terakhir.
Turki masih menjadi negara dengan pengungsi terbanyak di dunia, yang menampung lebih dari 3,7 juta migran sejak dimulainya perang sipil Suriah pada 2011.