Maria Elisa Hospita
16 Januari 2019•Update: 17 Januari 2019
Yusuf Ozcan
PARIS
Presiden Prancis Emmanuel Macron menggelar debat nasional pada Selasa sebagai upaya untuk meredakan ketegangan akibat meluasnya gelombang protes di seluruh penjuru negeri.
Debat putaran pertama berlangsung di utara Kota Grand Bourgtheroulde dan dihadiri oleh 600 wali kota.
Tujuan debat tersebut adalah untuk mengatasi aksi protes "Rompi Kuning" sejak 17 November, yang menentang kenaikan pajak bahan bakar.
Empat tema utama akan dibahas dalam debat itu, yaitu perpajakan, transisi Prancis ke ekonomi rendah karbon, demokrasi dan kewarganegaraan, serta fungsi negara dan layanan publik.
Macron meminta para wali kota membantu mengatur debat dan memberikan solusi untuk masalah yang dihadapi negara.
Gerakan Rompi Kuning
Aksi protes Rompi Kuning telah meluas tak hanya di Prancis namun juga ke negara-negara Eropa lainnya.
Ribuan pengunjuk rasa yang mengenakan rompi kuning berkumpul di kota-kota besar Prancis, termasuk Paris, untuk memprotes kenaikan pajak bahan bakar dan memburuknya situasi ekonomi.
Mereka juga memblokir jalan-jalan utama dan pintu masuk-keluar ke pompa bensin dan pabrik di seluruh negeri. Polisi pun membubarkan demonstran dengan gas air mata dan meriam air.
Para demonstran, yang umumnya tinggal di daerah pedesaan karena tingginya biaya sewa di kota, menuntut agar Macron memotong pajak bahan bakar dan meringankan kesulitan mereka.
Di bawah tekanan, Macron pun mengumumkan kenaikan upah minimum dan membatalkan kenaikan pajak.
Namun, sejak itu, aksi protes justru berkembang menjadi gerakan yang lebih luas yang bertujuan mengatasi ketimpangan pendapatan dan menyerukan agar warga lebih proaktif dalam pengambilan keputusan pemerintah.
Sedikitnya 10 orang tewas, lebih dari 5.600 orang ditahan, dan lebih dari 1.700 lainnya terluka dalam aksi protes tersebut.