Muhammad Abdullah Azzam
22 Mei 2018•Update: 23 Mei 2018
Adem Salvarcioglu
BANGKOK
Masyarakat Thailand melakukan aksi turun ke jalan menentang penunandaan pemilihan yang sebelumnya telah direncanakan pada November 2018.
Masyarakat Thailand melakukan demonstrasi tersebut di dalam Universitas Bangkok.
Para demonstran yang terdiri dari sekitar 200 orang itu menuntut pemerintah agar tak lagi menunda pemilu setelah kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan Yingluck Shinawatra pada 22 Mei 2014.
Walau dapat larangan melakukan perkumpulan politik, demonstran yang lebih banyak terdiri dari para mahasiswa itu tetap melakukan aksi turun jalan tersebut.
Sekitar 3.200 polisi telah dikerahkan di berbagai daerah di ibu kota untuk menghadang para demosntran agar tak keluar dari area universitas dan mencegah pembesaran gerakan protes itu.
Kepolisian memperingatkan para demonstran untuk tidak melanjutkan aksi jalan mereka agar tak menakuti para turis dan menjaga citra Thailand di mata dunia.
konstitusional Thailand ditangguhkan setelah kudeta militer yang dipimpin oleh panglima militer Prayut Chan-O-Cha pada 22 Mei 2014.
Pemerintah Thailand di bawah kepemimpinan Prayut Chan-O-Cha telah menyatakan berulangkali menunda pemilu, yang sebelumnya direncanakan pada 2015.
Terakhir, Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha mengatakan pemilu akan diagendakan pada Februari 2019. Beberapa pihak khawatir akan jadwal pemilu 2019 itu pun akan mundur lagi.
Chan-O-Cha telah menyatakan bahwa jadwal pemilihan dapat diubah sekali lagi sesuai dengan kondisi politik di negara tersebut.
Pengamat politik berpendapat bahwa militer tak akan melepaskan pemerintahannya hingga mereka yakin bahwa partai-partai politik yang didukung mereka akan memenangi pemilu.