Elena Teslova
15 Mei 2022•Update: 16 Mei 2022
MOSKOW
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Uni Eropa (UE) berubah dari serikat ekonomi menjadi "perpanjangan NATO."
Berbicara pada konferensi pers di ibu kota Tajik, Dushanbe, setelah pertemuan para menteri luar negeri Persemakmuran Negara-Negara Merdeka, baru-baru ini Lavrov mengatakan "Uni Eropa telah berubah dari platform ekonomi yang konstruktif, seperti yang dia ciptakan, menjadi pemain militan yang agresif, menyatakan ambisinya jauh melampaui benua Eropa."
Sebagai contoh ambisi UE di luar benua, Lavrov mengutip pernyataan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang mengatakan UE harus berperan aktif dalam memastikan keamanan kawasan Indo-Pasifik.
“Suatu hari, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dengan gaya klasik agresifnya, menyatakan bahwa UE berkewajiban untuk berperan aktif dalam memastikan keamanan kawasan Indo-Pasifik.”
“Artinya, mereka bergegas tepat di sepanjang jalur yang sudah disiapkan NATO, dengan demikian mengkonfirmasi tren bahwa mereka bergabung dengan Aliansi Atlantik Utara dan akan menjalankan fungsi pelengkapnya,” kata Lavrov.
Rusia mengecam keras pembentukan AUKUS -- pakta keamanan trilateral antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AS) yang diumumkan pada 15 September 2021 untuk kawasan Indo-Pasifik -- yang memenuhi syarat sebagai pembentukan "NATO Asia" dan upaya untuk menghidupkan kembali kebijakan neo-kolonial oleh Barat, untuk menaklukkan kembali bekas jajahannya.
China juga memprotes pembentukan AUKUS karena dapat melayani tujuan penahanan militer negara itu.
AUKUS bulan lalu memperpanjang undangan tidak resmi ke Jepang untuk bergabung dengan blok tersebut.