Rhany Chairunissa Rufinaldo
29 Agustus 2018•Update: 30 Agustus 2018
Muhammad Mussa
LONDON
Menteri Inggris untuk PBB mendesak masyarakat internasional untuk mendukung pengungsi Rohingya.
Berbicara di Dewan Keamanan PBB di New York, Lord Tariq Ahmad dari Wimbledon juga berpendapat bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk mengakhiri krisis saat ini, seperti akses yang tidak terbatas dan efektif untuk PBB dan bahwa masyarakat internasional perlu meningkatkan dukungan finansialnya untuk para pengungsi.
Ahmad meminta para pelaku pembersihan etnis Rohingya di Myanmar untuk dimintai pertanggungjawaban dan dibawa ke pengadilan.
“Inggris memainkan peran utama dalam mengakhiri krisis ini. Kami membutuhkan konsensus politik internasional untuk mengakhiri situasi kemanusiaan yang mengerikan ini,” kata Ahmad dalam sebuah pernyataan di situs web pemerintah.
“Bangladesh telah melakukan lebih dari yang seharusnya untuk membantu para pengungsi. Sekarang giliran negara lain untuk meningkatkan, dan memberikan dana yang akan membantu mendukung baik pengungsi maupun komunitas yang mendukung mereka, dan bagi mitra internasional untuk bertindak bersama memastikan keadilan bagi para korban krisis,” tambahnya.
Inggris adalah salah satu donor terbesar bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh dan telah menyumbangkan GBP129 juta (USD166 juta) untuk mendukung hampir satu juta warga Rohingya di kamp-kamp pengungsi.
Pada Senin, PBB merilis laporan yang menyerukan penyelidikan atas pejabat militer tertinggi Myanmar, yang menyatakan bahwa mereka harus dituntut atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang terhadap Muslim Rohingya.
Bertepatan dengan dirilisnya laporan PBB, Facebook menutup akun para pimpinan militer Myanmar setelah menyimpulkan bahwa konten mereka melanggar peraturan platform.
Dalam laporannya, badan pengungsi UNHCR mengatakan hampir 170.000 orang Rohingya melarikan diri dari Myanmar pada tahun 2012 saja.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Dalam laporan terbaru yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira', OIDA meningkatkan perkiraan jumlah Rohingya yang terbunuh menjadi 23.962, dari angka yang dikeluarkan oleh Doctors Without Borders sebelumnya sebesar 9.400.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA, menambahkan bahwa 17.718 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel militer.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.