Pizaro Gozali İdrus
15 Mei 2018•Update: 15 Mei 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras tindakan kekerasan Israel terhadap demonstran Gaza yang telah menewaskan sedikitnya 58 orang.
Otoritas tertinggi ulama di Indonesia tersebut meminta Turki berinisiatif mengajak negara-negara Islam untuk menggelar sidang darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) atas kondisi terkini di Palestina.
“Apalagi Ketua OKI sekarang Turki yang dikenal peduli terhadap dunia Islam. Karena kalau Ketua OKI yang menyerukan akan jauh lebih kuat,” ujar Wasekjen MUI Zaitun Rasmin kepada Anadolu Agency, Selasa.
Zaitun mengatakan tindakan kekerasan yang dilakukan Israel telah menyayat hati umat Islam. Zaitun berharap ada upaya serius dari dunia Islam untuk menghentikan langkah Israel.
“Dunia tidak boleh kendor menyuarakan dukungan untuk Palestina,” ujar Zaitun
Zaitun juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia untuk aktif mendesak adanya sidang darurat OKI karena posisi Indonesia sangat dihormati oleh negara-negara Islam.
Selain itu, Zaitun juga meminta masyarakat dan lembaga-lembaga pro Palestina kembali menyelenggarakan aksi solidaritas sebagai dukungan Indonesia kepada Palestina.
“Mudah-mudahan [panitia aksi] Indonesia Bela Baitul Maqdis bisa kembali melakukan protes,” jelas Zaitun.
Sementara itu, Ketua MUI Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaedi meminta agar Israel dihapus dari keanggotannya di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) karena sudah banyak melakukan pelanggaran HAM.
Muhyiddin juga mendesak agar DK PBB segera mengambil keputusan tersebut demi perdamaian dan kemaslahatan dunia
Sebelumnya, ribuan warga Palestina berkumpul di perbatasan timur Jalur Gaza sejak kemarin pagi untuk mengikuti demonstrasi pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Sedikitnya 58 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam aksi tersebut, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Demonstrasi akan mencapai puncaknya pada Selasa, 15 Mei, tepat pada saat peringatan 70 tahun berdirinya Israel, yang disebut orang Palestina sebagai "Nakba" atau "Malapetaka".