Muhammad Abdullah Azzam
17 Desember 2020•Update: 18 Desember 2020
Abdolsalam Salimi Miskin, Mustafa Melih Ahishali
ISTANBUL
Para politisi dan akademisi Iran pada Rabu mengkritik beberapa pejabat dan media di negaranya atas tuduhan tidak adil terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang membacakan puisi pada sebuah upacara di Azerbaijan.
Kontroversi muncul setelah Erdogan membacakan puisi di ibu kota Azerbaijan, Baku, pekan lalu, untuk memperingati keberhasilan negara itu dalam membebaskan Nagorno-Karabakh dari pendudukan Armenia selama hampir 30 tahun.
Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengklaim bahwa puisi itu menyerang integritas teritorial Iran.
Dalam pembicaraan telepon selanjutnya dengan Zarif, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan puisi itu berkaitan dengan Karabakh dan Erdogan tidak pernah menyebut-nyebut Iran selama pidatonya, bahkan secara tersirat.
"Tidak mungkin Erdogan bermaksud melecehkan integritas teritorial Iran," kata Presiden Iran Hassan Rouhani pada Senin.
Dalam konferensi pers, Rouhani mengatakan bahwa "berdasarkan pengetahuan saya tentang Erdogan di masa lalu, sangat tidak mungkin dia berniat untuk melecehkan integritas teritorial kami atau menghina rakyat Iran".
Rouhani juga menggarisbawahi pentingnya hubungan Turki dan Iran, lalu mengatakan kedua negara bekerja sama untuk menyelesaikan masalah regional yang penting.
"Zarif dan beberapa orang lain di negara itu mengira bahwa puisi itu dibaca oleh kelompok separatis, atau memiliki tujuan politik, tetapi sebenarnya tidak demikian," kata Rahman Kahramanpur, seorang pakar hubungan internasional Iran, dalam sebuah wawancara dengan harian Aftab-e Yazd.
Kahramanpur mengatakan Zarif seharusnya melakukan penelitian tentang masalah tersebut dan bertanya kepada mitranya di Turki sebelum bereaksi.
Pakar politik Iran Ali Efshari mengatakan sikap yang diadopsi oleh Teheran tidak boleh merusak esensi hubungan antara kedua negara.
Menggarisbawahi bahwa pernyataan Erdogan tidak tersirat pesan separatisme, Efshari mengatakan warga Azerbaijan di Iran adalah warga negara kami dan merupakan bagian penting dari masyarakat kami. Mereka tidak boleh terluka saat bereaksi terhadap suatu masalah.”
"Chauvinisme dan sikap rasis yang ditunjukkan oleh beberapa otoritas Iran salah secara politik dan moral," tambah Efshari.
Mantan duta besar Iran untuk Baku Afshar Soleimani mengatakan kepada situs berita Ensafnews bahwa kecil kemungkinan Erdogan mengikuti kebijakan era Ottoman atau berusaha memecah belah Iran.