Astudestra Ajengrastrı
03 Oktober 2018•Update: 03 Oktober 2018
Haydar Karaalp
BAGHDAD
Parlemen Irak memilih Barham Salih sebagai presiden baru negara tersebut pada Selasa malam setelah pemungutan suara putaran kedua.
Salih, anggota Partai Uni Patriotik Kurdistan (PUK), meraih 219 suara dari 272 anggota parlemen, membuatnya menang telak dari kandidat lainnya.
Tujuh kandidat lain, termasuk seorang wanita, memperebutkan posisi ini. Mereka adalah Sardar Abdullah, Sarwa Abdul-Wahed, Abdullatif Rashid, Omar Barzanji, Fuad Hussein dan Abdulkarem Abtan al-Joubori.
Kandidat dari Partai Demokratik Kurdistan (KDP) Fuad Hussein mengundurkan diri dari pencalonannya, menurut pernyataan partainya.
Dalam upacara pengambilan sumpah, Salih berkata, "Saya akan menjaga persatuan Irak. Saya akan menjadi presiden bagi semua warga Irak, bukan hanya kelompok tertentu."
Di bawah kesepakatan tak tertulis, presiden Irak -- yang lebih banyak berperan seremonial -- harus dijabat oleh seorang Kurdi, perdana menteri seorang Syiah dan ketua parlemen seorang Sunni.
Salih adalah perdana menteri Pemerintahan Regional Kurdistan (KRG) pada 2009-2011. Dia juga menjabat wakil perdana menteri Irak di bawah Ayad Allawi, yang menjadi perdana menteri setelah kejatuhan Saddam Hussein.
Dia telah memberikan tugas membentuk pemerintahan kepada kandidat Syiah independen, Adil Abdul-Mahdi.
Salih lahir pada 1960 di Sulaymaniyah, di utara Irak.
Dia lulus dari Jurusan Arsitektur Universitas Cardiff pada 1983. Dia mendapatkan gelar master di bidang teknik dari Universitas Liverpool.
Dia mendirikan Universitas Sulaymaniyah Amerika dan saat ini masih duduk di kursi dewan kehormatan.
Salih juga merupakan perwakilan PUK di Inggris pada tahun 80-an.