Adel Bin Ibrahim Bin Elhady Elthabti
25 Agustus 2021•Update: 25 Agustus 2021
Adel al-Thabti
TUNIS
Gerakan Ennahda Tunisia menyatakan keprihatinan mendalam atas ketidakpastian masa depan negara itu.
Hal itu disampaikan partai politik terbesar di Tunisia menyusul keputusan Presiden Kais Saied untuk memperpanjang penangguhan parlemen dan kekebalan anggotanya hingga batas waktu yang tak tentu.
"Kami sangat khawatir dengan ketidakpastian masa depan negara setelah presiden menginstruksikan memperpanjang keputusannya," kata partai pimpinan Ketua Parlemen Rached Ghannouchi dalam sebuah pernyataan.
Pada 25 Juli, Saied menangguhkan parlemen selama 30 hari, mencabut kekebalan anggotanya, memberhentikan Perdana Menteri Hichem Mechichi, dan mengambil alih kekuasaan eksekutif.
Dia juga memberhentikan atau mengganti sejumlah pejabat senior.
Pada Senin malam, kepresidenan mengumumkan bahwa Saied memperpanjang tindakan tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Tunisia dipandang sebagai satu-satunya negara yang berhasil melakukan transisi demokrasi di antara negara-negara Arab yang menyaksikan revolusi rakyat untuk menggulingkan rezim penguasa, termasuk Mesir, Libya, dan Yaman.
*Ditulis oleh Mahmoud Barakat