Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 Desember 2019•Update: 13 Desember 2019
Faruk Zorlu
ANKARA
Misi Bantuan PBB untuk Irak (UNAMI) mengungkapkan setidaknya 424 orang tewas dan 8.758 terluka dalam protes anti-pemerintah di Irak yang dimulai pada awal Oktober.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Rabu berjudul "Demonstrasi di Irak: Pembaruan ke-2, 5 November - 9 Desember 2019", UNAMI mengatakan 170 demonstran tewas dan 2.264 lainnya terluka selama periode tersebut.
UNAMI mengatakan temuan awal menunjukkan bahwa penggunaan kekuatan (mematikan dan tidak mematikan) yang melanggar hukum, tidak tepat dan berlebihan serta perlakuan buruk dan pelanggaran hak-hak prosedural dari demonstran yang ditangkap terjadi selama periode yang dicakup dalam laporan tersebut.
"Pemerintah tidak mengizinkan UNAMI untuk mendapatkan data statistik resmi rumah sakit mengenai korban terkait demonstrasi atau mengunjungi rumah sakit untuk mewawancarai para korban," tulis laporan itu.
Laporan UNAMI sebelumnya yang berjudul "Demonstrasi di Irak: pembaruan, 25 Oktober - 4 November 2019", yang meliput gelombang kedua protes di Irak, mengatakan 97 pengunjuk rasa tewas selama periode tersebut.
Menurut laporan paling awal, 157 demonstran tewas dan 5.494 lainnya terluka dalam gelombang pertama protes.
Irak telah diguncang gelombang protes sejak awal Oktober untuk menentang praktik korupsi, tingginya angka pengangguran dan minimnya pelayanan dasar.
Tuntutan pengunjuk rasa kemudian meningkat menjadi seruan untuk membubarkan pemerintahan Perdana Menteri Adel Abdul-Mahdi.