Jeyhun Aliyev
10 April 2022•Update: 11 April 2022
ANKARA
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan mematikan Rusia di sebuah stasiun kereta api di kota Kramatorsk, timur Ukraina Jumat lalu.
"Serangan di stasiun kereta api Kramatorsk di timur Ukraina hari ini, menewaskan dan melukai sejumlah warga sipil yang menunggu untuk dievakuasi, termasuk banyak wanita, anak-anak dan orang tua, dan serangan lain terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil sama sekali tidak dapat diterima," kata Stephane Dujarric, Juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, dalam sebuah pernyataan tertulis.
Serangan-serangan itu, kata Dujarric, adalah "pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan hukum hak asasi manusia internasional" dan para pelakunya harus "diminta pertanggungjawaban."
"Sekretaris Jenderal mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka di bawah hukum internasional untuk melindungi warga sipil dan urgensi untuk menyepakati gencatan senjata kemanusiaan untuk memungkinkan evakuasi yang aman dan akses kemanusiaan ke populasi yang terjebak dalam konflik," ungkap pernyataan itu.
Pernyataan itu juga menegaskan kembali seruan Sekjen PBB kepada semua pihak terkait untuk "segera mengakhiri perang brutal ini."
Sedikitnya 50 orang, termasuk lima anak-anak, tewas pada Jumat dalam serangan Rusia di stasiun kereta api di Kramatorsk, kata otoritas Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan itu "jahat tanpa batas," dan mengatakan pasukan Rusia menghantam stasiun itu dengan rudal Tochka-U.
Kremlin membantah laporan Ukraina tentang serangan udara Rusia di stasiun kereta api.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tuduhan dari Kyiv tentang serangan roket Rusia yang mematikan di Kramatorsk adalah sebuah provokasi dan "sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan."