ANKARA
Turki pada Jumat mengutuk serangan mematikan pada Jumat di sebuah stasiun kereta api di kota Kramatorsk, Ukraina.
"Kami sangat sedih mengetahui bahwa puluhan orang, yang sedang menunggu untuk dievakuasi, tewas dan terluka akibat serangan roket terhadap stasiun kereta api kota Kramatorsk di Ukraina timur," kata pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Turki.
Kemlu negara itu menggarisbawahi bahwa serangan tersebut “sekali lagi menunjukkan pentingnya dan urgensi membangun koridor kemanusiaan untuk memastikan evakuasi warga sipil yang aman.”
"Kami dengan tegas mengulangi seruan kami agar pihak-pihak mengakhiri perang yang menghancurkan semuanya, dengan segera mengumumkan gencatan senjata," tambah pernyataan dari otoritas Turki.
Sebelumnya pada hari itu, pihak berwenang Ukraina menyalahkan pasukan Rusia atas serangan yang menewaskan sedikitnya 50 orang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggambarkan serangan itu sebagai "kejahatan tanpa batas."
"Kurangnya kekuatan dan keberanian untuk melawan kami di medan perang, mereka secara sinis menghancurkan penduduk sipil. Ini adalah kejahatan yang tidak memiliki batas. Dan jika tidak dihukum, itu tidak akan pernah berhenti," kata Zelenskyy.
Namun, Kremlin membantah melakukan serangan itu.
Sementara itu, dalam sebuah posting-an di Twitter, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan, "Saya sangat mengutuk serangan membabi buta terhadap stasiun kereta api di Kramatorsk oleh Rusia, yang menewaskan puluhan orang dan melukai lebih banyak lagi. Ini adalah upaya lain untuk menutup rute bagi mereka yang melarikan diri dari perang yang tidak adil ini dan menyebabkan penderitaan manusia.”
Presiden Dewan Eropa Charles Michel mengatakan "mengerikan melihat Rusia menyerang salah satu stasiun utama yang digunakan oleh warga sipil untuk mengungsi dari wilayah di mana Rusia meningkatkan serangannya."
Setidaknya 1.626 warga sipil telah tewas dan 2.267 terluka di Ukraina sejak perang dimulai pada 24 Februari, menurut perkiraan PBB, dan angka sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Lebih dari 4,3 juta warga Ukraina telah melarikan diri ke negara lain, dengan jutaan lainnya mengungsi, menurut badan pengungsi PBB.