Maria Elisa Hospita
05 Juli 2018•Update: 06 Juli 2018
Fatih Erel
JENEWA
Muslim Rohingya masih terus melarikan diri dari negara bagian Rakhine, karena kekerasan, penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia.
"Para pengungsi yang baru tiba diwawancarai oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB menuturkan bahwa kekerasan, penganiayaan dan pelanggaran HAM masih berlanjut, termasuk pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah Rohingya," ujar Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra'ad Al Hussein mengatakan kepada Dewan HAM PBB di Jenewa, Rabu.
"Tidak ada retorika yang dapat menutupi fakta-fakta ini. Orang-orang masih melarikan diri dari penganiayaan di Rakhine - dan bahkan bersedia mengambil risiko mati di laut demi menyelamatkan diri," kata dia lagi.
Myanmar telah membantah tuduhan bahwa pasukan keamanannya terlibat dalam kampanye pembersihan etnis yang telah menyebabkan sebanyak 700.000 Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus 2017.
Menurut dia, ada 11.432 pendatang baru di Bangladesh pada pertengahan Juni tahun ini.
"Lima puluh delapan orang Rohingya yang kembali sepanjang Januari - April tahun ini ditangkap dan dihukum atas tuduhan yang pernah tak terbukti," ungkap Al Hussein.
"Myanmar harus paham bahwa komunitas internasional tidak akan melupakan kekerasan atas Rohingya, juga tidak akan membiarkan politikus melindungi kejahatan mereka," tegas dia.
Komisioner tinggi mendesak pemerintah Myanmar untuk memberikan akses langsung bagi para penyelidik HAM internasional independen dan Pelapor Khusus PBB saat ini, Yanghee Lee, untuk memastikan penyelidikan yang kredibel.
"Saya mendesak Dewan Keamanan untuk segera merujuk Myanmar ke ICC, sehingga semua tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan terhadap Rohingya dapat diselidiki, termasuk tuduhan kejahatan perang terhadap kelompok etnis lain seperti Kachin dan Shan," tambah Al Hussein.
Menurut Amnesty International, sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh setelah tentara Myanmar melancarkan operasi atas kelompok Muslim minoritas.
Dokter Lintas Batas (MSF) mengatakan, sedikitnya 9,400 Rohinga tewas di Rakhine sepanjang 25 Agustus - 24 September tahun lalu.
Dalam sebuah laporan yang dirilis baru-baru ini, MSF menyebutkan bahwa 71,7 persen kematian atau 6.700 orang disebabkan oleh kekerasan. 730 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun.
Rohingya, yang disebut-sebut PBB sebagai kaum paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.