Fatih Erel
02 Februari 2018•Update: 02 Februari 2018
Fatih Erel
JENEWA
Suriah tidak menerima bantuan selama dua bulan terakhir karena persetujuan untuk bantuan berada dalam level terendah dalam tiga tahun terakhir, kata PBB pada Kamis.
"Konvoi bantuan terakhir ke area yang terkepung terjadi pada akhir November," kata Jan Egeland, penasehat khusus PBB untuk Suriah, dalam sebuah konferensi pers di Jenewa.
"Selama Desember dan Januari, belum ada satupun konvoi yang masuk membawa bantuan medis atau makanan ke area-area yang terkepung itu. Ini situasi terburuk yang kami hadapi sejak 2015. Kami tidak bisa melakukan evakuasi medis sejak akhir Desember," terang Egeland.
Di Raqqa, di mana teroris Daesh ditumpaskan Oktober lalu kemudian diambil alih oleh kelompok teroris PKK/PYD, Egeland mengatakan ledakan bom sering terjadi di sana dan membunuh atau melukai sekitar 50 orang per minggu.
Dia juga mengatakan sekitar 15.000 warga sipil melarikan diri ke Afrin, setelah Turki meluncurkan operasi militer untuk membantai teroris di sana, tepat di perbatasannya dengan Suriah.
Turki pada 20 Januari meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin, Suriah.
Staf Umum Turki menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, juga untuk melindungi masyarakat Suriah dari tekanan dan kekejaman teroris.
Operasi ini dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah, kata pernyataan tersebut.