Vakkas Dogantekin
ANKARA
Sementara pihak majelis juri masih belum memutuskan apakah itu merupakan bentuk pembangkangan sipil atau tindakan spionase, whistleblowing atau pelaporan pelanggaran terus menjadi mimpi buruk bagi organisasi publik dan swasta serta pemerintah.
Berdasarkan definisi dari Wikipedia, pelapor pelanggaran atau dalam bahasa Inggris kerap diistilahkan Whistleblower "adalah orang yang memaparkan segala jenis informasi atau aktivitas yang dianggap ilegal, tidak etis, atau tidak benar di dalam organisasi yang bersifat pribadi atau publik,".
Dihadapkan dengan tindakan hukum, tuntutan kriminal, stigma sosial, dan pemutusan hubungan kerja dari posisi, kantor, atau pekerjaan mereka, para wistleblowers dijadikan contoh begitu tawaran berisiko mereka mulai menyinggung kepentingan khusus atau negara.
Berikut ini adalah ringkasan singkat dari beberapa pelapor pelanggaran yang berani mengubah lanskap politik di dunia.
Julian Assange
Lahir pada 1971, Julian Assange adalah seorang programmer komputer Australia, pencari suaka politik, buron Inggris dan pendiri WikiLeaks.
Pada 2006, Assange meluncurkan situs web yang berbasis di Islandia, yang menggambarkan dirinya sebagai "hati dan jiwa", pendiri, filsuf, juru bicara, penyelenggara dan pemodal.
Dia telah berlindung di Kedutaan Besar Ekuador di London sejak 2012 dalam upaya untuk menghindari penangkapan dan kemungkinan ekstradisi ke Amerika Serikat (AS), di mana dia menjadi buronan karena membocorkan informasi rahasia pemerintah dan militer.
Assange akan ditangkap jika dia keluar dari kedutaan tersebut. Surat perintah penangkapan dari Polisi Inggris masih berlaku setelah Assange kabur usai dibebaskan sementara dengan jaminan pada 2010 lalu.
Departemen Kehakiman AS meluncurkan penyelidikan kriminal ke WikiLeaks dan Assange setelah kebocoran kabel diplomatik pada 2010, fasilitas yang disediakan oleh prajurit Amerika Bradley Manning yang dikenal sebagai Cablegate.
Selama Cablegate, WikiLeaks merilis lebih dari 250.000 kabel rahasia yang telah dikirim ke Departemen Luar Negeri AS oleh 274 Konsulat AS, kedutaan besar dan misi diplomatik di seluruh dunia dari tahun 1966 hingga 2010.
WikiLeaks juga merilis email dan dokumen milik John Podesta, manajer kampanye presiden Hillary Clinton 2016.
WikiLeaks dianggap sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kalahnya Clinton dari Presiden AS saat ini, Donald Trump, karena kebocoran ini menempatkan kelemahan substansial pada mantan sekretaris negara tersebut.
Edward Snowden
Dalam upaya untuk memungkinkan orang AS melihat pekerjaan internal pemerintahan mereka, Edward Snowden yang berusia 31 tahun merilis materi rahasia pada program-program Badan Keamanan Nasional AS kepada The Guardian dan The Washington Post pada 2013.
Pemerintah AS mendakwa Snowden dengan pencurian properti pemerintah dan dua tuduhan lainnya di bawah Undang-Undang Spionase 1917 yang ketat. Setiap dakwaan dijatuhkan hukuman penjara maksimal 10 tahun.
Snowden diberikan suaka oleh Rusia pada 2013.
Menurut berbagai laporan di media, dia sekarang tinggal di lokasi yang dirahasiakan di Moskow.
Chelsea Manning
Chelsea Manning (sebelumnya Bradley Manning) dijatuhi hukuman 35 tahun di penjara militer karena membocorkan informasi rahasia kepada publik dan menjalani sekitar tujuh tahun dalam tahanan militer sebelum mantan Presiden Barack Obama mengubah masa hukumannya sesaat sebelum ia lengser pada 2017.
Manning dihukum karena menyediakan situs web whistleblower Wikileaks dengan ratusan ribu dokumen rahasia dan tidak terklasifikasi tetapi sensitif pada tahun 2010.
Dia ditangkap tahun itu dan dihukum pada tahun 2013 dengan hukuman penjara terpanjang yang pernah dijatuhkan dalam kasus pembocoran rahasia negara.
Manning menjabat sebagai analis intelijen di Irak ketika dia melakukan pengungkapan kontroversial tersebut.
Pada 8 Maret 2019, ia ditahan dengan tuduhan melakukan penghinaan terhadap pengadilan karena tidak bersaksi dalam kasus pemerintah AS melawan WikiLeaks dan pendirinya Julian Assange, kemudian dia dipenjara di Alexandria, Virginia.
Hakim mengkondisikan pembebasannya atas kesaksiannya atau majelis juri mengakhiri masa kerja mereka.
Sersan Frank "Greg" Ford
Pensiunan agen kontra intelijen dengan masa dinas militer lebih dari 30 tahun, Sersan Frank Ford ditugaskan di Samarra, Irak pada Juni 2003.
Dia melaporkan penyiksaan yang dilakukan secara sistematis tahanan Irak di Samarra.
Tetapi alih-alih dilakukan investigasi atas laporannya, Sersan. Ford dinilai memiliki mental tidak stabil oleh Angkatan Darat AS dan dipindahkan ke Landstuhl, Jerman untuk evaluasi psikologis.
Dalam semua penilaian kejiwaan yang dilakukan, Ford yakin bahwa dirinya cukup sehat.
Katharine Gun
Katharine Gun, mantan penerjemah Inggris untuk Markas Besar Komunikasi Pemerintah (GCHQ), sebuah agen intelijen Inggris, membocorkan informasi rahasia kepada pers mengenai kegiatan "ilegal" yang dilakukan oleh AS dan Inggris dalam upaya mereka melakukan invasi ke Irak tahun 2003.
Pada November 2003, dia didakwa melakukan pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Rahasia Resmi. Kasusnya diajukan ke pengadilan pada Februari 2004 tetapi dibatalkan karena jaksa menolak memberikan bukti.
Gun yang menunjukkan anti-perang dipuji di seluruh dunia, termasuk oleh aktor AS Sean Penn, yang menjulukinya "pahlawan untuk semangat kemanusiaan".
news_share_descriptionsubscription_contact

