Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 April 2019•Update: 09 April 2019
Ali Abo Rezeg
ANKARA
Hampir enam juta warga Israel akan memberikan suara mereka pada Selasa, dalam pemilihan Knesset (parlemen), yang dipandang sebagai salah satu tantangan terberat bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sejak kembali berkuasa pada 2009.
Lebih dari 40 partai politik bersaing untuk mendapatkan 120 kursi Knesset, meskipun hanya 12 partai diperkirakan akan melewati ambang pemilihan.
Berikut adalah pesaing utama dalam pemilihan 9 April:
- Partai Likud sayap kanan pimpinan Netanyahu
Selama kampanye, Netanyahu berjanji bahwa tidak akan ada satu pun pemukim Yahudi yang diusir dari Tepi Barat, di mana wilayah itu akan tetap di bawah kendali Israel dan Yerusalem tidak akan dibagi.
- Koalisi "Biru dan Putih" pimpinan Benny Gantz dan Yair Lapid
Dalam kampanye pemilihan mereka, Gantz dan Lapid menyampaikan kritik pada kurangnya aksi Netanyahu terhadap Jalur Gaza yang dikelola Hamas. Koalisi ini menyerukan solusi militer.
- Partai Kanan Baru pimpinan Naftali Bennett
Didukung oleh mantan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked, partai menyerukan aneksasi sebagian besar Tepi Barat dan menolak gagasan negara Palestina merdeka.
- Partai Buruh pimpinan Avi Gabai
Sebagai salah satu partai politik tertua Israel, Partai Buruh baru-baru ini mengalami penurunan popularitas yang cukup serius di kalangan pemilih Israel.
Hasil survei sebelum pemilihan menunjukkan bahwa Partai Buruh akan memenangkan lima hingga tujuh kursi Knesset.
- Koalisi Arab
Daftar Gabungan Arab, yang menjadi koalisi tunggal pada 2015, saat ini terbagi menjadi dua koalisi.
Orang-orang Arab membentuk sekitar 20% pemilih Israel.
Partai-partai Arab mengatakan prioritas utama mereka adalah melawan "hukum negara-bangsa" Israel yang kontroversial, yang disahkan di Knesset tahun lalu.
- Partai Meretz
Menyebut dirinya sebagai partai "sosial-demokratis", Meretz mendukung solusi dua negara.
Partai ini hanya berhasil memenangkan lima kursi di pemilihan Knesset 2015.