Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 September 2018•Update: 04 September 2018
Esat Firat
RAMALLAH, Palestina
Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Minggu mengatakan bahwa Palestina masih percaya terhadap perdamaian atas dasar prinsip solusi dua negara, menurut kantor berita resmi Palestina WAFA.
Berbicara pada pertemuan dengan delegasi dari gerakan "Peace Now" Israel di markas kepresidenan di Ramallah, Abbas mengatakan, "Perdamaian harus dicapai tidak peduli seberapa besar tantangan dan kesulitan yang dihadapi, untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dan pemuda dari kedua bangsa."
"Terlepas dari semua keadaan sulit di sekitar kita, kami masih percaya pada perdamaian atas dasar resolusi legitimasi internasional dan prinsip solusi dua negara untuk mendirikan negara sipil kami, yang berfungsi untuk menyebarkan budaya dan perdamaian di dunia," dia berkata
Abbas mengingatkan kembali bahwa kontak dengan pemerintah AS telah diputus sejak Presiden Donald Trump mengumumkan pengalihan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem, menyatakannya sebagai ibu kota Israel, dan mencoba untuk menetapkan kembali pengungsi Palestina yang melanggar resolusi legitimasi internasional.
Yerusalem tetap berada di jantung konflik Timur Tengah, sementara Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur -- yang diduduki oleh Israel sejak 1967 -- akhirnya bisa berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina merdeka.
Trump, bagaimanapun, memicu kegemparan internasional dengan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Palestina telah mengutuk permintaan pemerintahan Trump untuk kembali ke meja perundingan, dengan alasan bahwa Washington telah melepaskan perannya sebagai mediator yang netral dengan membuat deklarasi tersebut.
Tentang keputusan AS untuk mengakhiri pendanaan untuk Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB bagi Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA), Abbas menekankan bahwa masalah ini harus diselesaikan sesuai dengan resolusi legitimasi internasional dan Prakarsa Perdamaian Arab.
Pada Jumat, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan bahwa Washington "tidak akan lagi melakukan pendanaan lebih lanjut" kepada UNRWA.
AS adalah pemberi dana terbesar UNRWA, yang memberikan USD350 juta per tahun, atau sekitar seperempat dari anggaran lembaga itu.
Awal pekan lalu, UNRWA telah memperingatkan jika Washington melakukan pemotongan pendanaannya, maka akan menghasilkan ketidakstabilan yang lebih besar.
Didirikan pada 1949, UNRWA memberikan bantuan penting kepada lebih dari 5 juta pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki Israel, Yordania, Libanon, dan Suriah.