Umar Idrıs
27 Januari 2020•Update: 27 Januari 2020
Hamdi Yildiz
RAMALLAH, Palestina
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk berbicara melalui telepon, kata seorang pejabat Palestina, pada Senin.
Trump mengajukan permintaan itu beberapa hari yang lalu, kata pejabat itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena pembatasan berbicara kepada media.
Pekan lalu, Gedung Putih mengumumkan bahwa Trump akan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz, pesaing Netanyahu yang mengepalai Partai Biru dan Putih, pada Selasa pekan ini.
Pertemuan itu akan membahas prospek kesepakatan damai Timur Tengah versi AS yang kontroversial, yang bertajuk "Kesepakatan Abad Ini."
Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah beberapa kali mengumumkan penolakannya untuk menerima rencana AS tersebut, karena tidak membahas masalah-masalah Yerusalem, pengungsi, dan perbatasan.
Televisi Saluran 12 dan 13 Israel mengatakan rencana perdamaian versi Trump itu akan mengakui kedaulatan Israel atas hampir semua pemukiman di Tepi Barat yang diduduki, yang menurut hukum internasional adalah ilegal.
Rencana itu juga akan secara efektif memindahkan perbatasan Israel yang diakui AS lebih jauh ke timur ke wilayah Palestina dan kedaulatan Israel akan diakui atas seluruh Yerusalem, daerah yang bagi Palestina akan dijadikani sebagai ibu kota negara masa depan mereka.
Rencana itu juga akan mengakui negara Palestina yang didemiliterisasi, sehingga para pejabat Palestina sangat tidak mungkin menerima rencana itu. Dalam "Kesepakatan Abad ini", kata Channel 12, akan menuntut perlucutan senjata Hamas dan pengakuan Palestina atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Jika rencana itu terungkap pada pekan ini, rencana perdamaian versi Trump itu disampaikan di tengah sidang pemakzulan Trump di Senat AS, dan ketika parlemen Knesset Israel memberikan suara tentang kemungkinan kekebalan bagi Netanyahu dalam tiga kasus korupsi.