Muhammad Abdullah Azzam
19 Februari 2021•Update: 19 Februari 2021
Nazli Yuzbasioglu, Sena Guler
ANKARA
Kepala Majelis Parlemen NATO pada Kamis memperingati 69 tahun keanggotaan Turki dalam aliansi tersebut.
“Sejak Turki bergabung dengan NATO pada 1952, Turki telah berdiri di garis depan menghadapi banyak tantangan Aliansi dari ekspansi Soviet hingga agresi Rusia hingga Laut Hitam, dari terorisme hingga ketidakstabilan yang meluas di Timur Tengah,” kata Gerald E. Connolly, presiden majelis tersebut.
Connolly memberikan selamat dan berterima kasih kepada Turki atas kontribusinya yang kuat terhadap keamanan bersama dan nilai-nilai bersama aliansi.
"Segera setelah Tirai Besi turun ke Eropa, Turki memahami bahwa untuk melawan otoritarianisme dan agresi komunis, demokrasi harus berdiri bersama untuk mempertahankan nilai-nilai kita bersama," tutur dia.
Dia mengatakan nilai-nilai demokrasi itu tetap menjadi dasar kekuatan NATO selama lebih dari tujuh dekade.
Connolly menambahkan semuanya harus terus bekerja untuk melindungi demokrasi, mengembangkannya dan memperkuat kemampuan kita untuk melawan dan melawan upaya untuk melemahkannya.
Connolly mencatat bahwa Turki telah memainkan peran penuh sebagai "sekutu trans-atlantik yang kuat" dengan berdiri bahu-membahu bersama negara-negara anggotanya, berkontribusi pada upaya untuk membawa stabilitas di Balkan Barat dan Afghanistan, serta menampung jutaan pengungsi Suriah.
"Pada gilirannya, NATO telah mendukung Turki, membantu melindunginya kapan pun dibutuhkan," kata Connolly.
Tahun ini, kata Connolly, NATO akan membuat keputusan penting untuk mempersiapkan dan beradaptasi untuk dekade berikutnya.
"Saya berharap dapat bekerja dengan anggota parlemen Turki untuk membantu membentuk masa depan dalam nilai-nilai demokrasi kita bersama dan bertekad untuk saling bergantung dalam solidaritas," pungkas dia.