Maria Elisa Hospita
24 Juli 2018•Update: 24 Juli 2018
Andrew Wasike
NAIROBI, Kenya
Lebih dari 20.000 orang yang tinggal di permukiman kumuh Kibera, Kenya - salah satu permukiman terbesar di Afrika - telantar dalam cuaca dingin pada Senin, setelah pemerintah menghancurkan rumah-rumah mereka untuk pembangunan jalan senilai USD19 juta.
Gedung-gedung sekolah pun tak luput dari penggusuran tersebut.
Selama buldoser-buldoser milik pemerintah menggilas rumah warga, polisi tampak berjaga-jaga di sekitar permukiman tersebut.
"Mereka memang sudah memberi tahu kami dua hari yang lalu, namun kemana kita harus pergi?" ujar Mary Maina, pemilik toko kelontong di kawasan itu.
Lewat sebuah pernyataan, Amnesty International mengutuk penghancuran itu: "Untuk membuat permukiman yang layak tidak seharusnya dilakukan dengan menghancurkan rumah, toko, dan sekolah milik 30.000 penduduk,"
"Penggusuran bahkan sebelum Rencana Aksi Permukiman Kembali selesai berarti mengkhianati kepercayaan publik dan melanggar hukum. Tindakan ini harus dihentikan," kata mereka lagi.