Astudestra Ajengrastrı
14 Januari 2018•Update: 15 Januari 2018
Emre Gurkan Abay
MOSKOW
AS kemungkinan akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov pada Sabtu.
“Keputusan kemarin menunjukkan AS akan memutuskan untuk keluar dari perjanjian itu,” ujar Ryabkov kepada media Rusia.
Komentar Ryabkov ini dibuat sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang penjatuhan sanksi kepada Iran, yang sebelumnya dikatakan akan menjadi yang terakhir kali, dan meminta sekutu-sekutu Eropanya untuk bekerja bersama Washington untuk memperbaiki “kekurangan yang signifikan” dalam perjanjian nuklir tersebut.
“Ini adalah kesempatan terakhir. Jika tidak ada kesepakatan itu, AS tidak akan mengesampingkan sanksi demi tetap berada dalam kesepakatan nuklir Iran. Dan bila suatu saat saya merasa kesepakatan tidak akan tercapai, saya akan menarik diri dari kesepakatan itu secepatnya,” kata Trump dalam sebuah pernyataan.
Ryabkov berkata, AS menarik diri dari kesepakatan dapat merusak perjanjian internasional dan Moskow memandangnya dengan “negatif”.
“Kami akan terus bekerja bersama dengan komunitas internasional melawan langkah AS,” dia menambahkan.
Menanggapi pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan pada Jumat bahwa Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) “tidak dapat dinegosiasikan”.
“Kebijakan Trump dan pengumuman hari ini merupakan upaya putus asa untuk menggagalkan kesepakatan multinasional, dan dengan kejam melanggar pasal 26, 28 & 29. JCPOA tidak dapat dinegosiasikan: ketimbang mengulangi retorika lama, AS harus menyesuaikan diri – sama seperti Iran,” kata Zarif di akun Twitter-nya.
Penundaan sanksi yang ditandatangani Trump pada Jumat harus dikeluarkan setiap 120 hari sekali, yang berarti AS akan tetap melakukan kewajibannya di bawah perjanjian JCPOA setidaknya sampai musim semi.
*Diyar Guldogan dari Ankara menyumbang untuk artikel ini