Muhammad Abdullah Azzam
07 Agustus 2019•Update: 09 Agustus 2019
Recep Şakar
MELBOURNE
Selandia Baru memutuskan untuk menarik pasukannya dari Irak dan menolak tawaran misi baru dari NATO di negara tersebut.
Pemerintah Selandia Baru mengumumkan negaranya telah "memenuhi tugasnya" di Irak dan menolak permintaan NATO untuk tetap menjadi bagian dari misi baru dalam pembangunan lembaga militer Irak.
Radio Selandia Baru (RNZ) merilis laporan berdasarkan keputusan kabinet bahwa Dewan Menteri telah membicarakan permintaan dari NATO tersebut, namun hasil rapat kabinet menunjukkan bahwa permintaan tersebut tak dapat diterima.
Menteri Pertahanan Ron Mark mengatakan bahwa permintaan NATO tersebut ditolak karena karena negaranya telah "menyelesaikan tugasnya” di Irak.
Menhan Mark menyebut alasan penolakan negaranya terhadap permintaan NATO itu adalah untuk berfokus pada wilayah Pasifik, Asia Tenggara serta dan daerah tradisional.
Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg memberikan pengajuan pertamanya terkait misi baru di Irak itu di sela kunjungan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern ke markas NATO di Brussels.
Setelah itu, Sekjen NATO Stoltenberg melakukan pengajuan yang kedua pada saat mengunjungi Selandia Baru pada akhir pekan lalu.