Maria Elisa Hospita
30 Juli 2018•Update: 31 Juli 2018
Alex Jensen
SEOUL
Kementerian Unifikasi Korea Selatan pada Senin menyatakan bahwa Seoul tidak turut campur dalam pembelotan puluhan warga Korea Utara tahun 2016.
Peran Korea Selatan dalam pelarian sekelompok warga itu dari pos mereka di Tiongkok telah mendapat sorotan baru, karena Komisi Hak Asasi Manusia Nasional pada akhir pekan mengumumkan bahwa mereka akan menyelidiki masalah ini setelah Pelapor Khusus PBB Tomas Ojea Quintana menyerukan penyelidikan "independen" atas kasus ini.
"Kementerian telah bekerja sama dengan komisi hak asasi manusia," kata juru bicara kementerian Lee Eugene saat konferensi pers, seperti dilansir oleh kantor berita Yonhap.
Mengenai tuduhan Korea Utara bahwa para warga yang membelot telah diculik paksa, Lee bersikeras bahwa "pendirian kami tentang masalah ini tidak berubah".
Sementara itu, manajer staf restoran, yang tiba di Selatan bersama dengan 12 karyawannya, telah mengklaim bahwa sejak Mei dia diancam oleh agen dari Seoul untuk memimpin kelompok itu keluar dari Tiongkok.
Baru-baru ini, Pyongyang kembali mengungkit masalah ini, sekaligus memperingatkan bahwa hubungan antar-Korea bisa memanas jika Selatan tidak memulangkan kembali warganya.
Sejak tahun 1990-an, Seoul telah memberikan perlindungan kepada warga Korea Utara yang berusaha melarikan diri dari rezim otoriter Pyongyang, dan ribuan warga telah mengambil tawaran itu.