Burak Dağ
06 Januari 2020•Update: 06 Januari 2020
Dilara Hamit
ANKARA
Turki akan berusaha keras untuk mengurangi ketegangan antara AS dan Iran, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Minggu, setelah terjadi pembunuhan komandan top Iran dalam serangan drone AS di ibukota Irak, Jumat.
"Turki selalu menentang intervensi asing dan menganggap serangan AS baru-baru ini di Baghdad dengan pemahaman yang sama," kata Erdogan, dalam sebuah wawancara televisi.
Dia menambahkan bahwa terlepas dari semua upaya dan prakarsa internasional, ketegangan AS-Iran tidak mungkin diselesaikan.
"Kami melakukan percakapan dengan [Presiden AS Donald Trump] malam itu, dan 4-5 jam kemudian, lalu ini pecah," kata Erdogan, merujuk pada pembunuhan Soleimani.
“Jadi masalah ini sudah direncanakan. Kami terkejut mendengar berita itu. Saya secara khusus menyarankan dia [Trump] untuk tidak meningkatkan ketegangan dengan Iran. "
Erdogan mengatakan Iran mungkin tidak akan diam terhadap pembunuhan Soleimani, menambahkan langkah itu akan meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Soleimani terbunuh bersama dengan Abu Mahdi al-Muhandis, komandan senior pasukan Hashd al-Shaabi Irak, dan delapan orang lainnya dalam serangan udara drone Jumat pagi di luar bandara Baghdad, menandai peningkatan dramatis dalam ketegangan antara AS dan Iran, yang telah meningkat sejak Trump pada tahun 2018 memutuskan secara sepihak menarik diri dari pakta nuklir 2015 yang ditandatangani negara besar dunia dengan Teheran.=
Erdogan juga mengatakan dia akan menjadi tuan rumah bagi rekannya dari Rusia, Vladimir Putin, untuk membicarakan perdamaian di Turki pada 8 Januari. Kedua pemimpin itu juga akan membahas pipa gas alam TurkStream serta masalah regional dan lainnya.
Erdogan mengatakan, dia berharap Turki dan Rusia dapat membantu mencapai gencatan senjata di Idlib, Suriah, sehingga tidak ada lagi korban sipil.
Dia menambahkan bahwa rezim Suriah Bashar al-Assad terus meningkatkan serangan udara dan darat terhadap permukiman sipil di zona de-eskalasi di Idlib.
Erdogan juga mencatat, melalui operasi Turki, sebanyak 8.200 kilometer persegi (3.166 mil persegi) tanah di Suriah telah dibersihkan dari terorisme.
Beralih ke Libya, ia menunjukkan bahwa Perjanjian Kerjasama Keamanan dan Militer dengan negara itu akan mendukung kelangsungan hidup pemerintah yang sah dan kemenangannya serta melindungi tanah dan asetnya.
Dia mengatakan bahwa Turki sudah mulai mengirim pasukan ke Libya.
Dia menambahkan kecaman Arab Saudi atas tindakan itu tidak mengganggu Turki, dan sebaliknya Turki mengutuk mereka.
Erdogan juga mengatakan rencana orang-orang Yunani dan Siprus Yunani untuk mengisolasi Turki di Mediterania telah gagal dan beberapa pihak masih belum dapat menerima kesepakatan maritim antara Turki dan Libya.