Muhammad Abdullah Azzam
18 Februari 2021•Update: 19 Februari 2021
Sena Guler
ANKARA
Turki, Rusia dan Iran pada Rabu menyelesaikan pertemuan yang membahas situasi lapangan di Suriah, kata Kementerian Luar Negeri Turki.
"Putaran kelima belas Pertemuan Internasional tentang Suriah dalam format Astana diadakan pada 16-17 Februari 2021 di Sochi, Federasi Rusia," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan tertulis.
Dalam pertemuan tersebut, ketiga pihak membahas situasi terkini terkait proses politik dalam konteks Komite Konstitusi serta perkembangan di Idlib dan timur Eufrat.
Pertemuan itu terjadi segera setelah kegagalan pada pertemuan Komite Konstitusi Suriah di Jenewa baru-baru ini pada Januari.
Pertemuan Sochi menegaskan kembali tekad untuk mendukung kinerja komite melalui interaksi berkelanjutan dengan pihak-pihak di Suriah, delegasi komite dan Geir Pedersen, utusan khusus PBB untuk Suriah, agar dapat memastikan fungsinya yang berkelanjutan dan efektif, kata kementerian itu.
"Masing-masing pihak juga menggarisbawahi pentingnya mematuhi Kerangka Acuan dan Aturan Inti Prosedur untuk membuat kemajuan dalam pekerjaan Komite dan melaksanakan mandatnya dalam mempersiapkan dan menyusun reformasi konstitusi," bunyi pernyataan itu.
Turki juga menyoroti perlunya “rencana kerja dan metodologi terstruktur” agar komite berfungsi secara efisien.
Ancaman terhadap kesatuan politik dan keutuhan wilayah Suriah serta keamanan nasional negara tetangga ditolak dalam pertemuan tersebut.
Pernyataan itu juga mengatakan mereka di pertemuan itu menggarisbawahi bahwa tidak dapat diterima "upaya oportunistis dan tidak sah" di Suriah dengan dalih kontra-terorisme.
"Mereka mengecam meningkatnya aksi teroris di Suriah yang menyebabkan hilangnya nyawa orang tak berdosa dan mereka mengungkapkan kekhawatiran akan meningkatnya serangan terhadap warga sipil di timur laut Suriah," tambah pernyataan itu.
-Seruan penerapan kesepakatan Idlib
Para pihak juga menegaskan kembali komitmen untuk menjaga ketenangan di lapangan dengan mengimplementasikan kesepakatan di Idlib, barat laut Suriah.
"Kami menekankan harapan kami akan penghentian pelanggaran gencatan senjata dan serangan yang menargetkan warga sipil," kata pernyataan otoritas Turki.
“Kelompok Kerja Pembebasan Tahanan/Penculikan, Serah Terima Jenazah dan Identifikasi Orang Hilang juga bertemu di sela-sela pertemuan itu. Kegiatan ke depan untuk mengembangkan kerja sama mengenai pembebasan bersama dan simultan dari orang-orang yang ditahan oleh kelompok oposisi dan rezim juga dibahas dalam pertemuan tersebut,” kata kementerian Turki.
Dalam deklarasi yang dikeluarkan setelah pertemuan tersebut, pihak-pihak tersebut juga mengutuk serangan militer Israel di Suriah yang melanggar hukum internasional dan kemanusiaan, dan merusak kedaulatan Suriah dan negara-negara tetangga.
Mereka mengatakan serangan itu juga membahayakan stabilitas dan keamanan di kawasan dan mendesak penghentian semua serangan.
Ditekankan sekali lagi bahwa tidak akan ada solusi militer untuk krisis Suriah, dan para pihak menekankan komitmen terhadap proses politik yang difasilitasi oleh PBB, sejalan dengan resolusi PBB.
Negara-negara tersebut juga menyampaikan keprihatinan atas situasi kemanusiaan di Suriah, serta dampak pandemi Covid-19.
Mereka mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memprioritaskan vaksinasi di Suriah.
"Kami menekankan perlunya meningkatkan bantuan kemanusiaan untuk semua warga Suriah di seluruh negeri tanpa diskriminasi, politisasi dan prasyarat," kata pernyataan itu, yang juga mendesak PBB untuk meningkatkan bantuan ke Suriah.