Maria Elisa Hospita
31 Juli 2018•Update: 31 Juli 2018
Selen Temizer
SOCHI, Rusia
Pejabat dari Turki, Rusia, dan Iran pada Senin sepakat untuk membebaskan sejumlah tahanan Suriah dari pihak rezim Bashar al-Assad maupun oposisi.
Menurut peserta yang hadir di rapat di kota Sochi, Rusia, menjelang perundingan perdamaian Suriah ke-10, di Astana, Kazakhstan, kedua belah pihak akan saling melepaskan sejumlah tahanan sebagai bagian dari langkah-langkah membangun kepercayaan.
Para peserta tidak membeberkan detail lebih lanjut mengenai identitas tahanan atau berapa banyak tahanan yang akan dibebaskan.
Perundingan damai Suriah yang ke-10 di Astana dimulai pada hari Selasa, yang akan membahas situasi terbaru di zona de-eskalasi di Idlib, Suriah, repatriasi pengungsi, pembebasan tahanan, dan pembentukan komite yang akan menulis ulang Konstitusi Suriah.
Selama pertemuan Astana ke-9 yang diadakan pada 14-15 Mei, semua pihak setuju untuk mempertahankan zona de-eskalasi dan gencatan senjata. Namun, pasukan Assad dan sekutu mereka justru menguasai zona de-eskalasi di wilayah Homs, Daraa, dan Quintieri setelah serangan besar-besaran.
Pekan lalu, rezim Assad mulai mengerahkan militer di barat daya Idlib untuk menyerang wilayah Gunung Turkmen, barat laut Suriah, yang terletak di dalam zona de-eskalasi.
Idlib menjadi topik utama selama pertemuan Astana, karena delegasi Turki diperkirakan akan bersikeras mempertahankan gencatan senjata rezim di wilayah tersebut.
Selama pertemuan tersebut, Rusia juga diharapkan untuk membahas repatriasi pengungsi dan orang-orang yang telantar. Para pejabat Rusia baru-baru ini mengunjungi Turki, Yordania, dan Lebanon, yang menjadi tuan rumah bagi mayoritas pengungsi Suriah.
Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura juga diharapkan menemui pejabat Turki, Rusia, dan Iran untuk membahas pembentukan komite konstitusi.
Baik rezim Assad maupun oposisi telah menyerahkan daftar 50 kandidat untuk mewakili mereka di komite kepada de Mistura.