Gozde Bayar
ANKARA
Menteri luar negeri Turki pada Senin mengatakan pasukan Armenia menyerang warga sipil di tengah ketegangan di perbatasan Azerbaijan-Armenia.
"Armenia menyerang warga sipil [di Azerbaijan] secara langsung yang pada dasarnya merupakan kejahatan perang," kata Mentu Turki Mevlut Cavusoglu setelah bertemua tatap muka dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg di ibu kota Ankara.
Cavusoglu mendesak semua pihak, terutama NATO, untuk meminta Armenia mundur dari wilayah Azerbaijan yang diduduki.
Stoltenberg juga mengatakan NATO "sangat prihatin" atas konflik Karabakh Atas, dan dia menyerukan penyelesaian secara damai dari sengketa tersebut.
"Kita harus mendukung semua upaya untuk menemukan solusi negosiasi damai karena tidak ada solusi militer untuk situasi di dalam dan sekitar Nagorno-Karabakh," kata Stoltenberg, mendesak semua pihak bertikai untuk segera menghentikan pertempuran.
"Saya berharap Turki menggunakan pengaruhnya yang cukup besar untuk meredakan ketegangan," tambah Stoltenberg.
Kepala NATO juga bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari yang sama.
Pertempuran dimulai pada 27 September ketika pasukan Armenia menyerang pemukiman sipil dan pos militer Azerbaijan di wilayah tersebut, yang menyebabkan korban jiwa.
-Konflik Karabakh Atas
Hubungan antara dua bekas republik Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh, juga dikenal sebagai Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Berbagai resolusi PBB, serta banyak organisasi internasional, menuntut penarikan pasukan penjajah.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan AS - dibentuk pada tahun 1992 untuk menemukan solusi damai untuk konflik tersebut, tetapi tidak berhasil. Gencatan senjata disepakati pada tahun 1994.
Banyak kekuatan dunia, termasuk Rusia, Prancis dan AS, mendesak gencatan senjata segera. sementara Turki mendukung hak Azerbaijan untuk membela diri.
- Sistem rudal S-400
Mengenai pembelian sistem rudal S-400 Turki dari Rusia, Cavusoglu mengatakan pihaknya terpaksa harus membeli S-400 karena Turki tidak bisa mendapatkan Patriot atau sistem pertahanan udara lainnya dari sekutunya.
"Dan kami melihat sensitivitas di dalam NATO," imbuh dia, menegaskan kembali bahwa Turki juga perlu memenuhi persyaratan esensial.
"NATO dan sekutunya perlu memahami ini juga," tegas dia.
"Ini bukan hanya tentang sistem pertahanan udara, tetapi juga bahwa sekutu tidak boleh menimbulkan kesulitan satu sama lain karena alasan yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan lain di industri pertahanan," kata Menlu Turki, menambahkan ini adalah salah satu masalah yang dia diskusikan dengan Sekjen NATO.
Sejak 2017, Turki dan AS berselisih tentang keputusan Turki untuk membeli S-400, sistem pertahanan rudal buatan Rusia, dan ancaman AS untuk memutuskan kontraknya untuk menjual jet tempur F-35 atas perselisihan tersebut.
Sementara itu, Stoltenberg mengatakan Turki adalah sekutu berharga yang berkontribusi pada NATO dengan cara yang berbeda.
“NATO tetap berkomitmen kuat untuk keamanan Turki,” tambah dia.
"Kami prihatin tentang konsekuensi akuisisi Turki atas sistem S-400," kata Stoltenberg, menambahkan bahwa sistem tersebut dapat menimbulkan risiko bagi pesawat sekutu dan dapat menyebabkan sanksi AS.
Menggarisbawahi bahwa sistem S-400 tidak dapat diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan rudal udara NATO, dia mendesak Turki untuk bekerja sama dengan semua sekutu untuk menemukan solusi alternatif.-Mediterania Timur
Di antara masalah yang dibahas Cavusoglu dan Stoltenberg adalah Mediterania Timur, Libya dan Suriah, sebut menteri Turki itu.
"Turki berusaha untuk tidak membawa masalah bilateral kami dengan sekutu lain ke dalam agenda NATO," kata Cavusoglu.
"Tapi kami terus melihat bahwa beberapa sekutu membawa masalah mereka dengan Turki atau negara lain ke dalam agenda NATO," tambah dia.
Menekankan bahwa Turki mengambil langkah-langkah untuk melindungi dirinya sendiri di Mediterania Timur dan Siprus Turki, Cavusoglu memuji inisiatif NATO untuk meredakan ketegangan antara Yunani dan Turki.
"Kami telah melihat inisiatif ini secara positif sejak awal dan NATO memberikan dukungan kepada kami," sebut dia.
“Awalnya Yunani bersikap negatif, tapi sekarang kami lihat Yunani juga ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan itu. Kami juga senang dengan itu,” ujar dia.
"Hari ini kami membahas ketegangan di Mediterania Timur. Kami sekarang telah membentuk mekanisme de-konflik militer untuk mengurangi risiko insiden dan kecelakaan di kawasan itu," kata Stoltenberg.
Stoltenberg menambahkan ini termasuk komitmen untuk menggunakan mekanisme aman yang telah disiapkan antara Yunani dan Turki.
"Mekanisme itu dicapai melalui keterlibatan konstruktif Turki dan Yunani di markas NATO," imbuh dia.
Dia berharap perselisihan yang sedang berlangsung dapat diselesaikan melalui negosiasi, dalam semangat solidaritas sekutu dan hukum internasional.
Pada Minggu, Turki dan Yunani menunda putaran negosiasi teknis berikutnya di Mediterania Timur karena kepala NATO sedang dalam kunjungan ke Ankara dan Athena.
Delegasi militer Turki dan Yunani mengikuti serangkaian pembicaraan teknis yang diselenggarakan NATO sejak 10 September.
Ketegangan meningkat selama berbulan-bulan di Mediterania Timur, karena Yunani telah mempermasalahkan hak Turki untuk eksplorasi energi.
Turki - negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania - mengirimkan kapal bor untuk mengeksplorasi energi di landas kontinennya, menegaskan haknya sendiri di wilayah tersebut serta hak Republik Turki Siprus Utara.
Secara terpisah, Stoltenberg bertemu dengan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, menurut pernyataan tertulis dari Kementerian Pertahanan Nasional Turki.
Dalam pertemuan tersebut, Akar dan Stoltenberg bertukar pikiran tentang perkembangan terkini di Mediterania Timur dan Libya, masalah NATO serta pertemuan teknis yang diadakan di markas NATO di Brussel antara delegasi militer Yunani dan Turki.
Akar menekankan bahwa Turki terus mendukung upaya penyelesaian konflik melalui dialog tanpa prasyarat.
news_share_descriptionsubscription_contact

