Muhammad Abdullah Azzam
25 Juli 2020•Update: 25 Juli 2020
Zuhal Demirci
ANKARA
Turki tak bisa diancam dengan sanksi, ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
"Pernyataan Presiden Macron tak akan mempengaruhi negara kami," kata Hami Aksoy menekankan bahwa ancaman seperti itu "tidak akan membuahkan hasil apapun."
Komentar Jubir Kemlu Turki itu muncul setelah Macron menuntut sanksi Uni Eropa terhadap Turki yang mana Prancis mengklaim Turki melakukan "pelanggaran" atas perairan Yunani dan Siprus.
Presiden mendesak UE untuk mengambil tindakan dalam krisis di Libya.
Aksoy pun menggarisbawahi bahwa Prancis kehilangan netralitas dan kesempatannya untuk berkontribusi untuk stabilitas kawasan dan Prancis mengambil langkah yang salah soal perkembangan di Mediterania Timur.
Prancis belum mendapatkan hasil dari kebijakannya dan tak akan bisa mendapatkan apa pun pada masa yang akan datang, tutur dia.
Jubir Turki juga menuntut Prancis agar berhenti berbanga hati dan bijak mengikuti aturan dan bersikap rasional.
Aksoy mendesak Macron untuk berhenti mendukung para para pemberontak di Libya, para teroris di Suriah dan berhenti menganggap diri sebagai satu-satunya pemilik tempat di Mediterania Timur.
Prancis mengadopsi kebijakan yang berbeda dari masyarakat internasional dan PBB dengan mendukung Khalifa Haftar, komandan pemberontak yang ingin merebut Tripoli dan mencoba menggulingkan pemerintah yang sah, kata Aksoy.
Setiap langkah yang diambil oleh Turki di Mediterania Timur bertujuan untuk membela hak dan kepentingan Turki dan Siprus Turki yang sah berdasarkan hukum internasional, ujar dia mengulangi seruan Ankara untuk dialog dan kerja sama di wilayah tersebut.