Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 September 2018•Update: 15 September 2018
Elena Teslova
MOSKOW
AS lebih suka bertindak sendirian dalam proses rekonsiliasi Taliban dan tidak mempertimbangkan kepentingan mitra dan tetangga regional Afghanistan, kata utusan presiden Rusia untuk Afghanistan.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, Zamir Kabulov mengatakan Moskow telah lebih inklusif dalam proses ini dengan mengundang Washington untuk menyelesaikan situasi di Afghanistan.
Upaya terakhir adalah dengan mengundang AS ke pertemuan di Moskow, kata diplomat itu.
Pertemuan Moskow awalnya akan diadakan pada 4 September, tetapi pada akhir Agustus Presiden Afghanistan Ashraf Ghani mengusulkan untuk menunda itu karena perombakan dalam pemerintahan.
Beberapa ahli menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan penolakan Taliban untuk datang ke Moskow setelah pertemuan itu dijadwal ulang untuk mengakomodasi pemerintah Kabul, karena kelompok militan itu tidak mengakui pemerintahan yang berkuasa saat ini di Afghanistan.
Namun demikian, Kabulov mengatakan bahwa Moskow berharap Taliban dapat hadir karena pertemuan itu memberikan "kesempatan langka" untuk berdialog dengan perwakilan tetangga dan sekutu Afghanistan.
Hambatan khusus dalam pertemuan itu adalah Ketua Dewan Keamanan Nasional Afghanistan yang baru, Hamdullah Mohib. Pria berusia 35 tahun itu lebih berorientasi barat dan tidak tertarik dalam interaksi dengan Moskow, kata pengamat politik.
Mohib sebelumnya mewakili Afghanistan sebagai duta besar negara itu untuk Amerika Serikat. Mohib menerima pendidikan Barat dan menikah dengan seorang warga negara AS, Lael Adams, yang merupakan seorang pakar tentang Afghanistan.
"Hanif Atmar (yang digantikan oleh Mohib) adalah sosok yang kuat dan berpengaruh dalam kepemimpinan Afghanistan. Kepergiannya tidak diragukan lagi akan mempengaruhi pekerjaan kantor Dewan Keamanan Nasional, yang juga menangani masalah rekonsiliasi nasional," ungkap Kabulov.
- 'Moskow punya peran kecil, AS tidak sama sekali'
Menanggapi pernyataan Departemen Luar Negeri AS tentang tidak adanya hasil signifikan dari pertemuan pertama di Moskow tentang proses perdamaian Afghanistan, Kabulov mengatakan, "Prestasi yang tak terbantahkan dari pertemuan Moskow pada April 2017 adalah: pengakuan oleh para peserta atas kegagalan penggunaan kekuatan terhadap oposisi bersenjata, kebutuhan untuk membuat perjanjian pan-Afghanistan dengan cara politik dan seruan kolektif yang disuarakan oleh Afghanistan dan negara-negara regional kepada Taliban untuk menghentikan konfrontasi bersenjata. "
"Dari sejumlah pertemuan yang diadakan di bawah naungan Amerika Serikat, kami tidak melihat adanya langkah-langkah kecil yang akan berkontribusi pada proses perdamaian intra-Afganistan," kata Kabulov.
Kabulov tidak setuju atas penolakan AS untuk menghadiri pertemuan Moskow dengan dalih bahwa bukan Afghanistan yang memimpinnya.
“Tesis ini tampaknya terlalu mengada-ada bagi kami, karena pertemuan itu dijadwalkan di bawah kepemimpinan bersama delegasi Rusia dan Afghanistan, seperti yang diberitahukan Washington. Rupanya, orang Amerika hanya berpartisipasi dalam pertemuan seperti itu, yang diadakan di bawah kepemimpinan mereka dan memenuhi kepentingan Amerika Serikat," tambahnya.
Pada saat yang sama, Kabulov mengakui bahwa AS adalah pemain kunci di Afghanistan karena kehadiran militernya, kepemimpinan misi NATO di negara tersebut dan bantuan keuangan kepada pemerintah Kabul.
”Bukan suatu kebetulan jika Taliban menyatakan kesiapannya untuk menegosiasikan perdamaian dengan mereka (AS), bukan dengan Kabul, dengan prasyarat penarikan pasukan asing, terutama pasukan AS, dari negara itu,” katanya.