İqbal Musyaffa
10 Maret 2018•Update: 11 Maret 2018
Feride Pelin Inal
GAZIANTEP, Turki
Para wanita mantan tahanan rezim Assad di Suriah menceritakan kisah kelam penyiksaan yang mereka alami selama di dalam penjara.
Pengungkapan kisah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik untuk dapat membantu sesama tahanan Suriah.
Mantan tahanan berinisial A.H.Y yang dipenjara selama enam bulan dari tahun 2015 sampai 2016 di sebuah penjara di Homs yang dikendalikan oleh rezim Bashar al-Assad, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia menghadapi penyiksaan.
Sebagai perawat, dia juga dicegah untuk memberikan bantuan medis kepada mereka yang menentang rezim tersebut.
"Mereka memperkosa gadis remaja tanpa menunjukkan belas kasihan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka menyiksa saya dan kakak perempuan saya dengan berbagai cara," kata dia.
Dia meratapi kondisi bahwa masyarakat Suriah mengasingkan mantan tahanan wanita. "Ini adalah hal tersulit untuk menjadi wanita di Suriah," imbuh dia.
Seraya membayangkan kisah hidupnya, A.H.Y mengatakan bahwa dia berlindung di Turki satu setengah tahun yang lalu bersama ketiga anaknya, meninggalkan suaminya yang pro-rezim.
Sementara seorang mantan tahanan lainnya, berinisial L. A, seorang lulusan fakultas hukum yang dipenjara selama sembilan tahun selama pemerintahan Hafez al Assad, ayah Bashar al Assad, mengatakan bahwa tidak ada akhir dari siksaan tersebut.
Dia mengatakan dirinya dipenjara karena menentang rezim tersebut. "Pemukulan dan penyiksaan tidak pernah berhenti. Mereka menempatkan saya di kursi listrik. Saya juga dipukuli saat terbaring di tanah," jelas L.A
L.A kini telah berada di Turki selama empat tahun. Dia mengatakan ada sejumlah wanita di penjara dan setiap hari ada wanita yang sekarat di dalam penjara.
"Kita tidak boleh lupa untuk mengeluarkan mereka," tegas dia.
Pada hari Selasa, Konvoi Nurani Internasional yang menggambarkan diri mereka sebagai ‘suara perempuan tertindas di Suriah’. Mereka melakukan perjalanan selama tiga hari dengan 55 bus dari Lapangan Yenikapi Istanbul.
Mereka mengadakan demonstrasi terakhir untuk menandai Hari Perempuan Internasional di Hatay, yang berbatasan dengan Suriah, setelah melakukan pemberhentian di kota-kota Turki Izmit, Sakarya, Ankara dan Adana.
Wanita asal lebih dari 50 negara, termasuk Suriah, Cile, Palestina, Irak, Inggris, Brasil, Malaysia, Pakistan, Kuwait dan Qatar berbicara kepada kerumunan masyarakat di sebuah lapangan raya di distrik Antakya.
Lebih dari 6.700 wanita, termasuk 417 gadis muda, masih ditahan di penjara yang dikelola oleh rezim Suriah, menurut sebuah pernyataan oleh Konvoi Nurani.
Suriah telah dikepung dalam perang sipil yang menghancurkan negara tersebut sejak Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstrasi pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.