Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
26 Desember 2019•Update: 27 Desember 2019
Bayram Altug
JENEWA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu mengatakan hampir 130.000 warga sipil mengungsi di provinsi Idlib di barat laut Suriah.
Salam sebuah pernyataan, organisasi PBB itu mengatakan sekitar 12 juta orang membutuhkan bantuan medis di Suriah setelah rezim dan jet Rusia menghantam pemukiman sipil.
Menurut WHO, sejauh ini, 14 apotik dan dua rumah sakit telah ditutup dan 42 fasilitas kesehatan lainnya berisiko ditutup jika serangan terus berlanjut di wilayah tersebut.
Richard Brennan, penjabat direktur darurat regional untuk WHO di Mediterania Timur, mengatakan bahwa ketegangan militer di wilayah itu baru-baru ini telah menyebabkan korban sipil, cedera dan intensifikasi penderitaan manusia.
Sumber di lapangan yang meminta tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan mengatakan setelah rezim dan pasukan Rusia mengintensifkan serangan, lebih dari 2.000 warga sipil melarikan diri dari Idlib dalam 24 jam terakhir.
Pada September 2018, Turki dan Rusia sepakat untuk mengubah Idlib menjadi zona de-eskalasi di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Sejak itu, lebih dari 1.300 warga sipil tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh rezim dan pasukan Rusia di zona de-eskalasi dan gencatan senjata terus dilanggar.
Lebih dari satu juta warga Suriah telah bergerak ke arah perbatasan Turki setelah mengalami serangan hebat.
Sejak meletusnya perang saudara di Suriah pada 2011, Turki telah menampung lebih dari 3,6 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya sebagai negara yang menampung pengungsi terbanyak di dunia.
Menurut data resmi, Ankara sejauh ini telah menghabiskan USD40 miliar untuk para pengungsi.