Muhammad Nazarudin Latief
14 April 2020•Update: 15 April 2020
JAKARTA
Asian Development Bank (ADB) menaikkan dana untuk penanganan Covid-19 hingga tiga kali lipat mencapai USD20 miliar dan menyederhanakan prosedur pengiriman bantuan pada negara-negara yang terdampak.
Sebelumnya ADB mengumumkan paket bantuan sebesar USD 6,5 miliar pada tanggal 18 Maret lalu, ditambah USD13,5 miliar dalam sumber daya untuk negara-negara berkembang yang terkena dampak parah di bidang kesehatan akibat pandemi Covid-19.
Paket USD20 miliar mencakup sekitar USD2,5 miliar dalam pinjaman lunak dan hibah.
“Pandemi akan sangat menghambat ekonomi, sosial, dan pembangunan di Asia dan Pasifik. Membalikkan pencapaian dalam program pengentasan kemiskinan, membuat ekonomi masuk dalam resesi,” kata Presiden ADB Masatsugu Asakawa dalam siaran persnya, Selasa.
“Paket bantuan akan dikirimkan lebih cepat, fleksibel untuk membantu mereka mengatasi tantangan yang mendesak dalam menangani pandemi dan kemerosotan ekonomi."
ABD memperkirakan memperkirakan dampak global pandemi tersebut antara 2,3 persen hingga 4,8 persen dari produk domestik bruto.
Pertumbuhan regional diperkirakan akan menurun dari 5,2 persen tahun lalu menjadi 2,2 persen pada 2020.
Paket bantuan ini berisi pembentukan Opsi Respons Pandemi Covid-19 di bawah program ADB’s Countercyclical Support Facility.
Dana sebesar USD13 miliar dari paket itu akan diberikan pada pemerintah negara-negara berkembang untuk menerapkan program pengeluaran countercyclical yang efektif mengurangi dampak pandemi dengan fokus khusus pada masyarakat miskin dan rentan.
Selain itu ada juga paket sebesar USD2 miliar yang diberikan pada sektor swasta.
Pinjaman dan jaminan akan diberikan kepada lembaga keuangan untuk menggairahkan perdagangan dan rantai pasokan.
Pinjaman pada lembaga keuangan mikro juga akan diberikan untuk membantu perusahaan kecil dan menengah yang kekurangan likuiditas, ujar dia.